Kemenkeu Target Ambil Alih 60 Persen Saham KCIC pada Pertengahan September 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Agu 2026, 11:30
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Presiden RI Prabowo Subianto kembali menaiki kereta cepat Whoosh menuju Stasiun Halim, Jakarta, dari Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Kamis 7 Agustus 2025. ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden Presiden RI Prabowo Subianto kembali menaiki kereta cepat Whoosh menuju Stasiun Halim, Jakarta, dari Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Kamis 7 Agustus 2025. ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan proses pengambilalihan 60 persen kepemilikan saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh selesai pada pertengahan September 2026.

Selama ini, porsi saham tersebut dimiliki konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sedangkan 40 persen saham lainnya tetap berada di tangan konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Purbaya menyampaikan proses pengalihan kepemilikan saham KCIC dari Danantara kepada Kementerian Keuangan sedang dipercepat.

"Pembahasan yang pertama adalah Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Ini akan diserahkan dari Danantara kasih ke Kementerian Keuangan. Nanti akan kita percepat, mungkin pertengahan bulan September sudah akan clear ya,” ujar Purbaya kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Baca JugaPurbaya Sebut Kemenkeu Belum Berencana Jadi Pemegang Saham di BEI

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons pandangan Presiden ke-7Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh tidak hanya diukur dari laba finansial, melainkan juga dari keuntungan sosial.  <b>(Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)</b> Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons pandangan Presiden ke-7Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh tidak hanya diukur dari laba finansial, melainkan juga dari keuntungan sosial. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ia menjelaskan kepemilikan saham KCIC nantinya akan dikelola melalui Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan sehingga tidak menjadi beban langsung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Dialihkan Kemenkeu, dikelola oleh saya semuanya KCIC itu. Tapi nanti akan kita pakai salah satu tangan BUMN, SMV Fiskal kita untuk mengelola itu. Kita kan punya banyak juga, ada SMV, ada ini, ada lain-lain. Jadi enggak langsung jadi tanggung jawab APBN,” jelas Purbaya.

Menurut Purbaya, setelah proses pengalihan selesai, kepemilikan 60 persen saham Whoosh tidak lagi berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero) maupun konsorsium PSBI yang terdiri atas PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Sebaliknya, seluruh kepemilikan tersebut akan berada di bawah pengelolaan SMV Kementerian Keuangan.

Baca JugaOJK Ungkap Kemenkeu, BI, hingga Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham BEI

Presiden RI Prabowo Subianto bertolak menuju Bandung, Jawa Barat, Rabu malam, menggunakan kereta cepat &quot;Whoosh&quot; bersama masyarakat dari Stasiun Halim, Jakarta. <b>(Istimewa)</b> Presiden RI Prabowo Subianto bertolak menuju Bandung, Jawa Barat, Rabu malam, menggunakan kereta cepat "Whoosh" bersama masyarakat dari Stasiun Halim, Jakarta. (Istimewa)

“Di saya, bukan (di bawah KAI),” ujar Purbaya.

Ia menambahkan kebutuhan pembiayaan operasional dan kewajiban KCIC ke depan akan ditopang dari dividen maupun keuntungan usaha SMV yang mengelola aset tersebut.

“Nggak, SMV kan punya untung juga kan, sebagian dari situ. Kira-kira begitu gambaran kasarnya,” ujar Purbaya.

Dalam kesempatan itu, Purbaya juga mengungkapkan pihak China masih berminat melanjutkan kerja sama dan bahkan terdapat peluang memperluas jalur kereta cepat hingga ke wilayah Jawa Timur.

“Kan punya dia dikasih semuanya, 60 persen kasih ke kita (Kemenkeu), 40 persen ada yang lain, masih ada Tiongkok di situ kan,” ujar Purbaya.

Mengenai SMV yang akan ditunjuk untuk mengelola saham KCIC, Purbaya mengatakan pembahasannya masih berlangsung dan kemungkinan melibatkan lebih dari satu entitas.

“Itu masih didiskusikan, harusnya lebih dari satu,” kata Purbaya.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close