Ntvnews.id, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin 4 Mei 2026, dibuka menguat 32,12 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.988,92.
Meski menguat, investor dinilai masih mencermati perkembangan berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
Dari eksternal, pelaku pasar global menaruh perhatian pada potensi putaran baru pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Selain itu, investor juga menanti rilis data ekonomi utama dari AS.
“Dari data ekonomi, investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan data sektor jasa ISM (Institute for Supply Management),” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya.
Baca juga: Bos BRI Sarankan Investor Lirik Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi
Ilustrasi - Layar menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 27 Oktober 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore, 27 Januari 2026, ditutup melemah 154,57 atau 1,87 persen ke (Antara)
Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah sebelumnya sempat melemah setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian baru kepada AS melalui Pakistan. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal tersebut.
Trump juga menghadapi tenggat waktu 60 hari berdasarkan War Powers Resolution terkait aksi militer dalam konflik dengan Iran.
Pemerintah AS berpendapat bahwa gencatan senjata sejak 7 April 2026 telah mengakhiri permusuhan, sehingga tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk melanjutkan kebijakan terkait konflik tersebut.
Sementara dari domestik, pasar akan dibayangi sejumlah rilis data ekonomi penting pada pekan ini, antara lain indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, dan inflasi pada 4 Mei 2026.
Selanjutnya, data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 akan dirilis pada 5 Mei 2026, diikuti cadangan devisa, indeks harga properti, dan penjualan mobil pada 8 Mei 2026.
Di sisi fiskal, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir Maret mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan defisit 0,43 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelebaran defisit tersebut dipengaruhi oleh kenaikan belanja negara sebesar 31,4 persen menjadi Rp815 triliun, sementara pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target.
Kondisi ini turut menjadi perhatian investor di tengah kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi.
"Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 ini di tengah kekhawatiran akan disiplin fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi," jelas Ratna.
Baca juga: IHSG Sesi I Anjlok 2,46 Persen, Gagal Bertahan di Level 7.000
Maka dari itu, secara teknikal, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang menguat apabila mampu bertahan di atas level 7.000 dengan kisaran pergerakan di area 7.020-7.150. Namun, jika masih berada di bawah level tersebut, IHSG berpotensi menguji rentang 6.750-6.850. (Sumber:Antara)
Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026. IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan k (Antara)