IHSG Dibuka Menguat ke 7.564, Potensi Melemah Tertekan Sentimen Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 10:52
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026. IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan k Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026. IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan k (Antara)


Ntvnews.id
, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis 23 April 2026 berpotensi bergerak melemah dipicu oleh dominasi sentimen dari tingkat global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi dibuka menguat 22,81 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.564,42.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,41 poin atau 0,19 persen ke posisi 737,38.

“Secara keseluruhan, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan defensif, di mana faktor global (harga minyak, dolar AS, dan geopolitik) akan lebih dominan dalam menentukan arah jangka pendek dibandingkan katalis domestik,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya.

Baca jugaIHSG Turun ke Level 7.528, Investor Cermati Langkah Bank Indonesia

Arsip foto - Layar yang menampilkan logo IDX pada hari ulatng tahun ke-45 diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 10 Agustus 2022. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Layar yang menampilkan logo IDX pada hari ulatng tahun ke-45 diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 10 Agustus 2022. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/pri. (Antara)

Dari mancanegara, meskipun masih terdapat risiko geopolitik tercermin dari kenaikan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz, pelaku pasar cenderung mengabaikan faktor tersebut dan lebih fokus terhadap fundamental domestik.

Namun demikian, valuasi yang semakin tinggi membuat risiko koreksi jangka pendek mulai meningkat seiring pergeseran risk-reward yang menjadi kurang menarik.

Dari dalam negeri, dari sisi makro, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen masih gagal menopang Rupiah, sementara kenaikan yield SBN ke level 6,64 persen mengindikasikan adanya capital outflow lanjutan dari pasar obligasi.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk sentimen MSCI, arus keluar asing, serta tekanan di pasar obligasi, menunjukkan outlook jangka pendek pasar keuangan Indonesia masih cenderung defensif dengan potensi volatilitas yang tinggi.

Pada perdagangan Rabu (22/04) kemarin, bursa saham Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,49 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,21 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,31 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,96 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Rabu (22/04), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,69 persen ke 49.490,03, indeks S&P 500 menguat 1,05 persen ke 7.137,90, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,73 persen ke 26.937,28.

Baca juga: IHSG Dibuka Turun ke 7.560, Tertekan Ketegangan AS–Iran

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 637,86 poin atau 1,07 persen ke 58.948,00, indeks Shanghai melemah 17,79 poin atau 0,43 persen ke 4.088,47, indeks Hang Seng melemah 237,74 poin atau 0,91 persen ke 25.925,50, dan indeks Strait Times melemah 49,60 poin atau 0,99 persen ke 4.953,12. (Sumber:Antara)

x|close