Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kini sangat sulit. Meski begitu, Pezeshkian menilai keberadaan Khamenei tetap menjadi salah satu sumber kekuatan penting bagi Iran.
Dalam wawancara yang ditayangkan televisi pemerintah Iran untuk memperingati dua tahun masa kepresidenannya, Pezeshkian mengatakan komunikasi yang lebih terbuka antara para pejabat dengan pemimpin tertinggi akan membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik.
Ia menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang "luar biasa". Pezeshkian juga mengaku mengagumi etika, sikap rendah hati, dan pola pikir pemimpin tertinggi Iran tersebut.
“Ada pihak-pihak yang berusaha menciptakan perpecahan di dalam negeri dengan memanfaatkan pesan Khamenei mengenai nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat,” ujar Pezeshkian, dikutip dari TRT World, Jumat, 7 Agustus 2026.
MoU yang terdiri dari 14 poin itu sebelumnya ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pezeshkian pada 17 Juni 2026. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mengesahkan gencatan senjata, menghapus blokade laut, serta menghentikan operasi militer aktif.
Baca Juga: Trump Klaim Mojtaba Khamenei 90 Persen Telah Tiada, Sebut Kekuatan Militer Iran Lumpuh
Mojtaba Khamenei pada akhirnya memberikan dukungan terhadap kesepakatan tersebut meskipun sebelumnya menyampaikan sejumlah keberatan.
Pezeshkian mengatakan Iran masih menghadapi tekanan besar dari pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh negaranya. Tekanan tersebut dilakukan melalui pemberlakuan sanksi dan konfrontasi militer yang menurutnya bertujuan meningkatkan ketidakpuasan masyarakat dan memicu demonstrasi.
Ia menilai kondisi yang dihadapi Iran saat ini merupakan salah satu periode paling berat sejak Revolusi Islam 1979.
Mojtaba Khamenei mulai menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari.
Papan reklame yang menampilkan mendiang mantan pemimpin Iran Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel (28/2) terlihat dipasang di jalan raya Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut, Lebanon, Selasa, 21 (Antara)
Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung ketika Iran tengah menghadapi konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat.
Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada April. Kedua pihak kemudian menandatangani MoU yang dimediasi Pakistan pada Juni dengan tujuan mengakhiri konflik sekaligus membuka peluang tercapainya perjanjian perdamaian jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut kembali gagal pada bulan lalu setelah Iran dan AS kembali saling menyerang selama hampir dua pekan. Konflik kemudian mereda setelah Presiden Donald Trump memerintahkan penghentian operasi pengeboman di tengah laporan mengenai adanya upaya baru untuk menghidupkan kembali proses negosiasi.
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)