Ntvnews.id, Taheran - Aktivitas penerbangan komersial dari Iran kembali berjalan setelah sempat terhenti selama dua bulan akibat konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sejumlah penerbangan menuju Istanbul, Muscat, dan Madinah mulai kembali beroperasi dari Bandara Internasional Imam Khomeini.
Maskapai nasional Iran Air juga kembali melayani rute domestik dari Teheran ke Mashhad untuk pertama kalinya setelah jeda selama 56 hari.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 27 April 2026, kantor berita Islamic Republic News Agency menyampaikan bahwa dalam beberapa hari ke depan, penerbangan tambahan akan dibuka ke sejumlah kota seperti Baku, Najaf, Baghdad, dan Doha.
CEO Iran Airports and Air Navigation Company, Mohammad Amirani, menyebutkan bahwa wilayah timur Iran akan diprioritaskan untuk penerbangan domestik maupun transit. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Turkmenistan, Afghanistan, dan Pakistan.
Baca Juga: Dudung Bakal Tanyakan ke Prabowo soal Isu Pesawat AS Bebas Lintasi Langit RI
Sejumlah bandara di wilayah provinsi, termasuk Mashhad, Zahedan, Kerman, Yazd, dan Birjand, juga telah disiapkan sebagai pusat pengaturan lalu lintas udara. Otoritas setempat kini mulai menjalin koordinasi dengan maskapai asing guna memastikan kepastian rute serta memulihkan kembali layanan penerbangan transit di tengah situasi gencatan senjata dengan AS.
Di sisi lain, upaya perundingan lanjutan antara Teheran dan Washington masih berlangsung di Pakistan. Konflik antara AS dan Israel dengan Iran sebelumnya berdampak luas terhadap industri penerbangan global. Penutupan wilayah udara di sebagian besar kawasan Timur Tengah menyebabkan puluhan ribu penumpang tertahan dan kesulitan kembali ke negara asal.
Beberapa negara sempat mengoperasikan penerbangan khusus untuk mengevakuasi warganya, namun langkah tersebut menghadapi kendala akibat lumpuhnya penerbangan komersial di kawasan.
ilustrasi pesawat. (Pixabay)
Sejumlah negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab mulai membuka kembali wilayah udara mereka secara bertahap beberapa hari setelah serangan pada 28 Februari. Jadwal penerbangan pun terus diperluas dalam beberapa pekan berikutnya.
Sementara itu, blokade di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran akan potensi krisis bahan bakar pesawat. Uni Eropa dikabarkan tengah mempertimbangkan impor bahan bakar jet dari Amerika Serikat serta menyiapkan kebijakan cadangan minimum guna mengantisipasi kekurangan pasokan.
Baca Juga: Pesawat Putar Balik Usai Diduga Tabrak Burung Tak Lama Setelah Lepas Landas
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa Eropa kemungkinan hanya memiliki cadangan bahan bakar pesawat untuk sekitar enam minggu. Ia juga menilai pembatalan penerbangan dapat terjadi dalam waktu dekat jika pasokan belum kembali stabil.
Dampak tekanan ini turut dirasakan oleh industri penerbangan global. Lufthansa Group bahkan mengumumkan rencana pengurangan sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober, menyusul lonjakan harga minyak serta kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar.
Ilustrasi Pesawat (Istimewas)