Ntvnews.id, Amsterdam - Sebuah penerbangan milik KLM Royal Dutch Airlines terpaksa kembali ke bandara asal setelah mengalami insiden tabrakan dengan burung sesaat setelah lepas landas.
Mengutip Aviationa2z, Senin, 13 April 2026, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Pesawat berangkat dari Bandara Amsterdam Schiphol sekitar pukul 14.30 waktu setempat. Namun, sekitar 15 menit setelah mengudara, pesawat mengalami gangguan akibat insiden tersebut.
Pilot kemudian memutuskan untuk kembali ke bandara keberangkatan sebagai langkah antisipasi. Setibanya di darat, seluruh penumpang dialihkan ke pesawat pengganti dan baru melanjutkan perjalanan menuju Prancis sekitar pukul 18.00 waktu setempat, atau hampir empat jam lebih lambat dari jadwal awal.
Pihak maskapai mengategorikan kejadian ini sebagai gangguan teknis. Mereka juga menyebut pesawat diduga bertabrakan dengan seekor bangau (heron), yakni burung berukuran besar yang relatif jarang terlibat dalam insiden dibandingkan burung kecil. Bahkan, terdapat kemungkinan burung tersebut sempat tersedot ke dalam mesin, meski masih dalam proses verifikasi.
Baca Juga: Singapura Batasi Penumpang Hanya Boleh Bawa Dua Power Bank di Pesawat
Terlepas dari lokasi pasti benturan, maskapai memastikan insiden tersebut cukup serius sehingga penerbangan tidak dapat dilanjutkan. Pesawat pun segera kembali ke Schiphol, dan tim darat langsung melakukan penanganan serta memindahkan penumpang ke pesawat siaga.
Insiden tabrakan burung atau bird strike memang tergolong risiko yang kerap terjadi di sekitar Bandara Schiphol. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah sekitar yang berdekatan dengan lahan terbuka serta jalur migrasi burung.
Sebagai langkah mitigasi, pengelola bandara telah menempatkan petugas khusus untuk mengendalikan populasi burung di area landasan. Berbagai metode digunakan untuk mengusir burung, termasuk koordinasi dengan pengatur lalu lintas udara guna mengalihkan jalur penerbangan bila diperlukan.
Meski demikian, potensi bird strike tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Burung berukuran besar seperti bangau dinilai memiliki risiko lebih tinggi karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada mesin pesawat, mulai dari gangguan pada baling-baling hingga potensi kegagalan mesin dalam kondisi ekstrem.
Ilustrasi Pesawat (Istimewas)