Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan merasa terkejut sekaligus khawatir setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut Israel dilarang menyerang Lebanon.
"Israel tidak akan lagi membombardir Lebanon," tulis Trump di Truth Social.
"Mereka DILARANG melakukannya oleh AS. Cukup sudah!!!" tegasnya, dilansir dari AFP, Senin, 20 April 2026.
Media AS, Axios, yang mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa para pejabat Israel pertama kali mengetahui pernyataan tersebut dari pemberitaan media, bukan melalui jalur komunikasi resmi.
Pemerintah Israel kemudian meminta Gedung Putih untuk memberikan klarifikasi atas unggahan tersebut.
Masih menurut Axios, pernyataan Trump itu dinilai bertentangan dengan isi perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS pada Kamis sebelumnya. Dalam dokumen tersebut, Israel tetap memiliki hak untuk melakukan tindakan militer, bahkan selama masa gencatan senjata, "untuk membela diri, kapan saja, terhadap serangan yang direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung."
Baca Juga: Menteri Israel Geram, Netanyahu Umumkan Gencatan Senjata Lebanon Tanpa Persetujuan Kabinet
Sebelumnya, pada Kamis, 16 April 2026 waktu AS, Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku tengah malam waktu setempat di Tel Aviv dan Beirut.
"Saya baru saja melakukan percakapan yang luar biasa dengan Presiden Joseph Aoun yang sangat dihormati, dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel. Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 17.00 sore EST," kata Trump dalam pengumuman via Truth Social saat itu.
Pengumuman tersebut muncul setelah berlangsungnya pembicaraan langsung yang jarang terjadi antara duta besar Israel dan Lebanon di Washington DC, yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada Selasa, 14 April 2026.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)