Presiden Iran Klaim Israel ‘Dipaksa’ Terima Gencatan Senjata di Lebanon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Apr 2026, 07:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam 'Dewan untuk Pengembangan Budaya Al-Quran' di Teheran, Iran, pada 24 Februari 2026. ANTARA/Iranian Presidency/Anadolu/pri. Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam 'Dewan untuk Pengembangan Budaya Al-Quran' di Teheran, Iran, pada 24 Februari 2026. ANTARA/Iranian Presidency/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Israel akhirnya menerima gencatan senjata di Lebanon karena tekanan yang kuat, bukan atas kehendak sendiri.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Pezeshkian mengatakan Israel "dipaksa mengumumkan gencatan senjata" sebagai hasil dari upaya diplomasi yang ia nilai berhasil.

"Israel tidak memiliki hak untuk menyerang Hizbullah dan front-front lain di Lebanon," kata Pezeshkian seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu, 18 April 2026.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, Islamabad telah menunjukkan keseriusan dalam mendorong jalur diplomasi sambil menjaga "martabat dan kebanggaan Iran".

Dalam pidatonya, Pezeshkian kembali menegaskan bahwa Iran "tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir" serta tidak menginginkan instabilitas maupun terorisme di kawasan.

Baca Juga: Iran Buka Total Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Turun Tajam

Ia menambahkan bahwa Teheran terus berupaya mendorong perdamaian dengan tetap menjaga kedaulatan wilayahnya "dengan bermartabat" dan sesuai kerangka hukum.

Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran akan tetap berpegang pada prinsip dan posisinya, yang menurutnya "harus dipahami oleh pihak lain".

Selain itu, ia menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang telah memicu kekacauan di kawasan melalui serangkaian aksi, termasuk pembunuhan terhadap tokoh militer, politisi, ilmuwan, hingga mahasiswa.

Di sisi lain, Israel akhirnya menyetujui gencatan senjata dengan Lebanon setelah beberapa hari melancarkan serangan udara yang menyasar kelompok Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.

Arsip foto - Bendera Iran dengan kerusakan besar di distrik Javadiyeh dan Beryanak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Mingu (15/3/2026). ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Bendera Iran dengan kerusakan besar di distrik Javadiyeh dan Beryanak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Mingu (15/3/2026). ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/pri. (Antara)

Sebelumnya, Iran bersikeras agar wilayah Lebanon masuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi AS selama dua pekan sejak 8 April. Namun, Israel sempat terus melanjutkan serangan meski kesepakatan tersebut telah diumumkan.

Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kemudian diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyebut kedua negara sepakat menjalankan penghentian konflik selama 10 hari mulai Kamis , 16 APril 2026.

"Kedua pemimpin ini telah sepakat, bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata 10 hari pada pukul 17.00," tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip Al Jazeera.

Kesepakatan tersebut tercapai setelah pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun, yang menandai upaya meredakan ketegangan di kawasan.

x|close