Ntvnews.id, Taheran - Kurang dari 24 jam setelah mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz, Iran kembali mengubah kebijakannya.
Mengutip laporan The Guardian, Sabtu, 18 April 2026, pemerintah Iran menyatakan pengelolaan jalur strategis tersebut kini dikembalikan ke "kondisi sebelumnya' akibat blokade yang dilakukan Amerika Serikat (AS).
Keputusan ini diambil menyusul konflik berkepanjangan antara Iran dan AS terkait blokade Angkatan Laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Dalam pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah, komando operasional militer Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, menyebut tindakan AS sebagai bentuk pelanggaran serius.
"Karena alasan ini, kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur air strategis ini berada di bawah manajemen dan kendali ketat angkatan bersenjata," ujarnya.
Baca Juga: PM Australia Tegaskan Tak Ada Permintaan Baru dari AS soal Iran
Lebih lanjut, pihak militer Iran menegaskan kondisi ini akan tetap berlaku hingga kebebasan navigasi bagi kapal-kapal Iran benar-benar dipulihkan oleh AS.
"Sampai AS memulihkan kebebasan navigasi sepenuhnya untuk kapal-kapal dari asal Iran ke tujuan, dan dari tujuan kembali ke Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi sebelumnya," tambahnya.
Arsip - Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, 30 April 2019. (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa.) (Antara)
Perkembangan terbaru ini memperkeruh ketidakpastian status Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik meningkat.
Sehari sebelumnya, tepatnya Jumat, 17 April 2026, Iran dan Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan selat tersebut telah kembali dibuka untuk pelayaran.
Namun, presiden AS saat itu menegaskan blokade tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan dengan Teheran, termasuk terkait program nuklir Iran.
Kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)