Ntvnews.id, Taheran - Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan bahwa Teheran tidak menerima gencatan senjata yang bersifat sementara dan menginginkan berakhirnya konflik secara menyeluruh di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di sela Forum Diplomasi Antalya, Khatibzadeh menyebut bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata harus mencakup seluruh wilayah konflik dari Lebanon hingga Laut Merah.
“Kami tidak menerima gencatan senjata sementara,” katanya, sebagaimana dikutip dari AFP, Sabtu, 18 April 2026.
Ia menekankan bahwa rangkaian konflik yang terjadi di kawasan “harus berakhir untuk selamanya”, serta menyebut upaya mediasi oleh Pakistan bertujuan untuk mencapai hal tersebut.
Terkait Selat Hormuz, Khatibzadeh menyatakan bahwa jalur tersebut secara historis tetap terbuka dan dapat diakses, meskipun berada dalam wilayah Iran.
Baca Juga: Iran Buka Total Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Turun Tajam
Ia juga menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memicu ketidakstabilan di kawasan, serta menyebut tindakan mereka berdampak pada terganggunya perdagangan global dan perekonomian dunia.
Meski demikian, Iran tetap berkomitmen menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, namun membuka kemungkinan penerapan pengaturan baru dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan lingkungan.
Menurutnya, penyelesaian konflik secara permanen akan memastikan jalur tersebut tetap aman bagi perdagangan global.
Arsip - Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, 30 April 2019. (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa.) (Antara)
Dalam upaya mediasi, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir diketahui berada di Teheran sejak Rabu, 15 April 2026, untuk bertemu sejumlah pejabat Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Munir juga melakukan pembicaraan dengan pejabat militer senior Iran sebagai bagian dari upaya diplomasi guna mengakhiri konflik yang tengah berlangsung.
Sebelumnya, pada 8 April, Pakistan menjadi tuan rumah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Arsip - Ilustrasi negara Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)