Ntvnews.id, Dasmaskus - Seluruh pasukan Amerika Serikat akhirnya meninggalkan Suriah setelah 10 tahun kehadiran militer di negara tersebut. Penarikan terakhir dilakukan dari pangkalan di wilayah Hasakah pada Kamis, yang menandai berakhirnya misi yang awalnya ditujukan untuk memerangi kelompok ISIS.
Setelah pasukan Amerika Serikat hengkang, militer Suriah langsung mengambil alih pangkalan yang sebelumnya dikuasai AS, yakni Qasrak. Fasilitas tersebut termasuk landasan udara yang sebelumnya digunakan oleh militer Amerika.
Seorang pejabat Suriah kepada Middle East Eye, memastikan bahwa proses penarikan telah rampung sepenuhnya. Sementara itu, analis Suriah Charles Lister mengungkapkan bahwa pangkalan tersebut kini dikuasai Divisi ke-60 Angkatan Darat Suriah, yang sebagian besar terdiri dari pasukan Kurdi yang berafiliasi dengan Pasukan Demokratik Suriah.
Kelompok SDF selama ini dikenal sebagai mitra utama AS dalam operasi melawan ISIS. Lister juga menyebut bahwa personel dan peralatan militer AS ditarik melalui Yordania guna menghindari potensi serangan dari kelompok paramiliter pro-Iran di Irak.
Baca Juga: Wilayah Udara Suriah, Irak, dan Bahrain Kembali Dibuka Usai Gencatan Senjata AS-Iran
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Suriah menyambut langkah tersebut. "Kami menyambut baik penyerahan lengkap situs-situs militer tempat pasukan Amerika Serikat sebelumnya berada di Suriah kepada pemerintah Suriah."
Pemerintah Suriah menilai proses ini sebagai bagian dari keberhasilan integrasi SDF ke dalam struktur negara. "Dan pengambilalihan tanggung jawab penuh negara Suriah untuk memerangi terorisme dan mengatasi ancaman regional di wilayahnya," paparnya.
Keputusan penarikan pasukan ini terjadi setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 oleh pasukan pemberontak yang dipimpin Ahmed al-Sharaa, yang kemudian menjabat sebagai presiden Suriah.
Sejak 7 Oktober 2023, Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan lebih dari 22 miliar dolar AS (sekitar Rp356,7 triliun) untuk mendukung operasi militer Israel, termasuk di Gaza, Lebanon, dan Suriah. ANTARA/Anadolu/py (Antara)
Sebelumnya, Washington memiliki sekitar 1.000 personel militer di Suriah dan turut memfasilitasi kesepakatan antara SDF dan pemerintah di Damaskus untuk memimpin operasi melawan kelompok militan. AS juga telah lebih dulu menarik pasukannya dari pangkalan utama lain seperti al-Tanf di selatan dan al-Shaddadi di timur laut.
Kehadiran militer AS di Suriah dimulai sejak 2015 dan sempat memicu ketegangan dengan Turki. Ankara memandang SDF memiliki keterkaitan dengan YPG, yang dianggap sebagai bagian dari PKK—organisasi yang telah lama dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh AS, Uni Eropa, dan Turki.
Baca Juga: Suriah Mulai Tukar Mata Uang Lama dengan Uang Baru Mulai 1 Januari 2026
Namun, upaya dialog damai antara Turki dan PKK dalam dua tahun terakhir membuka ruang bagi kesepakatan antara Damaskus dan SDF, yang sebelumnya berupaya memperoleh otonomi di wilayah timur laut Suriah.
Situasi kemudian mereda setelah adanya operasi terbatas oleh pasukan pemerintah Suriah serta intervensi diplomatik utusan AS Tom Barrack. Kesepakatan yang tercapai membuat SDF menyerahkan sebagian besar wilayah kekuasaannya, termasuk Raqqa dan Deir Ezzor, kepada pemerintah pusat di Damaskus.
Seorang pria mengibarkan bendera oposisi Suriah saat merayakan runtuhnya rezim Partai Baath yang bekuasa selama 61 tahun di Perlintasan Perbatasan Masnaa, Lebanon, Minggu, 8 Desember 2024. Pemberontak Suriah mengumumkan mereka berhasil menggulingkan (Antara)