Ntvnews.id, Canbera - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengajukan permintaan baru terkait dukungan dalam isu Iran. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat, 17 April 2026 setelah Presiden AS Donald Trump mengaku tidak senang dengan Australia.
Sebagai sekutu keamanan AS, Australia menegaskan tidak terlibat langsung dalam konflik Iran, namun memiliki kepentingan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz guna menjaga kelancaran distribusi bahan bakar.
Trump sebelumnya berulang kali mengkritik Australia karena dianggap tidak memberikan dukungan dalam konflik tersebut.
"Saya tidak senang dengan Australia karena mereka tidak ada di sana ketika kami meminta mereka untuk berada di sana," kata Trump kepada wartawan di Washington pada Kamis, 16 April 2026 waktu setempat.
"Mereka tidak ada di sana, terkait dengan Hormuz," cetus Trump, dilansir dari AFP, Sabtu, 18 April 2026.
Baca Juga: Anthony Gordon Cetak 4 Gol, Newcastle Menang 6-1 di Markas Qarabag
Menanggapi hal itu, Albanese menyebut bahwa Trump telah memberikan kejelasan terkait posisinya dalam isu Iran.
"Tidak ada permintaan baru sama sekali," katanya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengungkapkan bahwa Canberra saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat terkait situasi di Selat Hormuz.
Pada bulan sebelumnya, Australia disebut menerima permintaan dari Washington untuk membantu pertahanan negara-negara Teluk. Sebagai respons, Canberra mengirimkan pesawat pengintai E7 Wedgetail serta sistem rudal untuk melindungi Uni Emirat Arab, menurut pejabat setempat.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese (NTVnews.id)