Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memastikan adanya penambahan korban jiwa dari kalangan prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan. Dua personel yang sebelumnya dilaporkan terluka akhirnya gugur, sehingga total prajurit yang meninggal dunia dalam serangan Israel ini menjadi tiga orang.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat para prajurit tengah menjalankan tugas operasional di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut,” kata Rico dalam siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Ia menuturkan, para prajurit saat itu sedang melaksanakan tugas pengawalan guna mendukung aktivitas operasional misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di kawasan tersebut, yang memperbesar risiko bagi pasukan penjaga perdamaian.
Baca Juga: KPK Ungkap 8 Biro Haji Raup Rp40,8 Miliar dari Korupsi Kuota Haji
Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh pihak UNIFIL sesuai prosedur yang berlaku. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus menjalin koordinasi intensif dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel yang bertugas, sekaligus menjamin penanganan optimal bagi para korban.
“Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” jelas dia.
Kementerian Pertahanan juga menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama. Dalam konteks ini, semua pihak yang terlibat konflik diharapkan mematuhi hukum humaniter internasional serta memberikan jaminan keamanan bagi personel misi perdamaian.
“Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,” tegas dia.
Sebelumnya, insiden yang terjadi pada Minggu (29/3/2026) telah lebih dulu menimbulkan korban di kalangan prajurit TNI. Empat personel yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) TNI menjadi korban dalam serangan di wilayah Lebanon Selatan.
Baca Juga: KPK Ungkap Dugaan Aliran 30 Ribu Dolar dalam Kasus Kuota Haji
Berdasarkan keterangan Markas Besar TNI, keempat prajurit tersebut adalah Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, Praka Farizal Rhomadhon, dan Praka Arif Kurniawan.
Praka Farizal Rhomadhon dinyatakan gugur, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis.
Keempat prajurit tersebut merupakan bagian dari Kompi C United Nations Position (UNP) 7-1 dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Yonmek) XXIII-S yang bertugas di bawah misi UNIFIL.
Dalam penanganannya, dua prajurit dengan luka ringan dirawat di fasilitas kesehatan dasar milik PBB, yakni Hospital Level I UNIFIL. Sementara prajurit yang mengalami luka berat dievakuasi menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Sementara itu, prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di East Sector Headquaters (HQ) dan dalam penyelesaian administrasi pemulangan ke Indonesia dengan dibantu oleh pihak KBRI Beirut.
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menggelar parade militer di markas besarnya di Naqoura, Lebanon selatan pada 24 Oktober 2025, untuk memperingati ulang tahun ke-80 berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Xinhua/Ali Has (Antara)