Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Siapkan Senjata Nuklir untuk Ukraina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Feb 2026, 09:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. (ANTARA)

Ntvnews.id, Moskow - Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menuding Inggris dan Prancis tengah mempersiapkan langkah untuk mempersenjatai Ukraina dengan senjata nuklir.

Tuduhan tersebut, yang tidak disertai bukti pendukung, memicu respons keras dari pejabat tinggi keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, yang melontarkan ancaman serangan nuklir balasan terhadap Kyiv, Paris, dan London.

SVR mengklaim London dan Paris berencana menyerahkan bom nuklir kepada Kyiv demi membantu Ukraina meraih kemenangan militer atas Rusia. Pernyataan itu kemudian diperluas oleh media pemerintah Rusia, TASS, serta sejumlah akun pro-Kremlin di media sosial yang menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Pemerintah Ukraina membantah tegas tudingan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, menilai pejabat Rusia kembali menghidupkan narasi lama mengenai tuduhan bom kotor yang disebutnya sebagai kebohongan.

Prancis melalui akun resmi kementerian luar negerinya menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya mengalihkan perhatian dari situasi yang sebenarnya.

Baca Juga: Pendiri Telegram Pavel Durov Diselidiki Rusia atas Dugaan Bantu Aktivitas Teroris

"Gertakan nuklir tidak akan bisa menyembunyikan besarnya dukungan internasional untuk Ukraina pada peringatan keempat invasi Anda yang gagal," tulis pihak Prancis di platform X, seperti dikutip Euronews, Kamis, 26 Februari 2026.

Sementara itu, Pemerintah Inggris, berdasarkan laporan Sky News, menegaskan bahwa tuduhan tersebut sepenuhnya tidak benar.

Para pakar hukum internasional menilai klaim Rusia bertentangan dengan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), yang melarang negara pemilik senjata nuklir seperti Inggris dan Prancis untuk mentransfernya kepada negara non-nuklir, termasuk Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. <b>(Antara)</b> Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)

Jerman juga disebut dalam klaim SVR, yang menyatakan Berlin telah menolak tawaran untuk terlibat dalam rencana tersebut. Namun, Kementerian Pertahanan Jerman memilih tidak menanggapi pernyataan yang bersumber dari pihak tersebut.

Sejumlah analis keamanan melihat penyebaran informasi ini bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi penuh Rusia ke Ukraina. Narasi terkait senjata nuklir dinilai sebagai upaya membentuk persepsi publik domestik dan internasional, sekaligus menutupi kegagalan militer Moskow.

Baca Juga: Iran, Rusia, dan China Gelar Latihan Militer Bersama di Selat Hormuz

Sebagai latar belakang, Ukraina telah melepaskan seluruh persenjataan nuklirnya pada 1994 melalui Memorandum Budapest, sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Presiden Volodymyr Zelensky sebelumnya juga menegaskan bahwa prioritas Ukraina saat ini adalah bergabung dengan NATO, bukan membangun kembali kekuatan nuklirnya.

x|close