Ntvnews.id, Taheran - Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan Teluk.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa, 17 Februari 2026 waktu setempat, menyusul peningkatan kehadiran militer AS di wilayah tersebut seiring Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran terkait perundingan program nuklir.
Dengan mediasi Oman, Amerika Serikat dan Iran tengah terlibat pembicaraan yang bertujuan mencegah kemungkinan aksi militer AS, sementara Teheran menuntut pencabutan sanksi AS yang selama ini menekan perekonomian Iran. Delegasi kedua negara terlihat meninggalkan lokasi perundingan di kediaman duta besar Oman pada Selasa sore waktu setempat.
"Kita terus mendengar bahwa mereka telah mengirim sebuah kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya," kata Khamenei dalam pidatonya, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis, 19 Februari 2026.
Baca Juga: AS Negosiasi dengan Iran, Trump Siap Temui Khamenei
Khamenei juga menambahkan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan Republik Islam Iran. Sebelumnya, Trump memperingatkan adanya konsekuensi jika Teheran gagal mencapai kesepakatan, serta beberapa kali mengancam intervensi militer, awalnya terkait tindakan keras terhadap demonstran bulan lalu, lalu mengenai program nuklir Iran.
Washington diketahui telah mengerahkan dua kapal induk ke kawasan tersebut. Kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln, beserta hampir 80 pesawat militer, berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran pada Minggu lalu, berdasarkan citra satelit. Kapal induk kedua dikirim pada akhir pekan lalu sebagai bagian dari peningkatan tekanan AS.
Pemimpin Iran Ali Khamenei. (Instagram)
"Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan sebelum perundingan.
Pemerintah Iran menegaskan pembicaraan harus dibatasi pada isu nuklir, meski Washington sebelumnya mendorong pembahasan topik lain, termasuk program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Selasa, 17 Februari, menegaskan pencabutan sanksi harus menjadi bagian penting dari kesepakatan apa pun.
Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)