Ntvnews.id, Washington D.C - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Washington menyatakan siap melancarkan serangan terhadap Teheran pada akhir pekan, bergantung pada instruksi Presiden AS Donald Trump.
Dilansir dari AFP, Jumat, 20 Februari 2026, Amerika Serikat telah melakukan pengerahan kekuatan militer secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah, mulai dari kapal perang, jet tempur, hingga pesawat pengisi bahan bakar.
AS dilaporkan siap melakukan serangan terhadap Iran pada akhir pekan jika Trump memberikan perintah tersebut.
Trump, yang pernah memerintahkan serangan terhadap Iran tahun lalu, berulang kali mengancam Teheran dengan aksi militer apabila perundingan yang tengah berlangsung gagal menghasilkan kesepakatan pengganti perjanjian nuklir yang ia batalkan pada 2018.
Laporan sejumlah media besar AS, seperti CNN dan CBS yang dikutip AFP, menyebutkan militer AS dapat melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini, meski keputusan final belum diambil Trump.
Baca Juga: Israel Ingin Buat Aturan Pengusiran Warga Palestina dari Gaza hingga Tepi Barat
Menurut sumber yang dikutip CNN, Gedung Putih telah menerima pengarahan bahwa militer siap melakukan operasi pada akhir pekan setelah peningkatan signifikan pengerahan aset udara dan laut di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Namun, salah satu sumber menyebut Trump secara pribadi masih mempertimbangkan pro dan kontra tindakan militer, serta meminta masukan dari para penasihat dan sekutu mengenai langkah terbaik yang harus diambil.
Pejabat keamanan nasional AS menggelar pertemuan di Situation Room Gedung Putih pada Rabu, 18 Februari 2026 waktu setempat untuk membahas situasi Iran. Trump juga menerima laporan dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner terkait pembicaraan tidak langsung dengan Iran di Swiss pada Selasa, 17 Februari 2026.
Hingga kini belum jelas apakah Trump akan mengambil keputusan pada akhir pekan. "Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini," kata salah satu sumber yang dikutip CNN.
Ilustrasi konflik Iran vs Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)) (Antara)
Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Oman berlangsung selama 3,5 jam pada Selasa, 17 Februari 2026, namun berakhir tanpa kesepakatan jelas. Negosiator utama Iran menyebut kedua pihak menyepakati “serangkaian prinsip panduan”, sementara pejabat AS menilai masih banyak detail yang harus dibahas.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Iran diperkirakan akan menyampaikan rincian posisi negosiasi mereka “dalam beberapa pekan ke depan”, meski tidak memastikan apakah Trump akan menunda opsi militer.
Saat berbicara kepada wartawan, Leavitt menegaskan bahwa Trump tetap mengutamakan diplomasi, meskipun opsi militer masih terbuka.
Baca Juga: Iran Gelar Latihan Militer, Tegaskan Pengamanan Selat Hormuz
"Presiden selalu sangat jelas, terkait dengan Iran atau negara mana pun di dunia, diplomasi selalu menjadi pilihan pertamanya, dan Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahan ini," ucapnya.
Leavitt menambahkan Trump "berbicara dengan banyak orang, terutama tim keamanan nasionalnnya", sembari menegaskan: "Ada banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran".
Pernyataan yang belum pasti tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya potensi konflik militer antara AS dan Iran, meskipun pejabat kedua negara masih berharap solusi diplomatik dapat tercapai.
Selain kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perang lainnya, kapal induk USS Gerald R Ford yang merupakan kapal induk paling canggih milik AS diperkirakan dapat tiba di Timur Tengah paling cepat akhir pekan ini.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)