Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa krisis di Jalur Gaza memiliki karakter yang sangat khusus dan hingga kini belum dapat ditangani secara tuntas oleh lembaga-lembaga internasional yang sudah ada.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat memaparkan visi strategis Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dalam pertemuan perdana dewan tersebut di Washington DC.
“Ini adalah krisis yang sangat unik di Gaza, yang tidak dapat diselesaikan atau dipecahkan oleh lembaga-lembaga internasional yang ada. Situasi ini membutuhkan solusi yang sangat spesifik, yang memerlukan kemitraan dari semua negara yang hadir di sini, termasuk mereka yang hadir sebagai pengamat,” ujar Rubio.
Ia menjelaskan bahwa terselenggaranya pertemuan perdana BoP tidak lepas dari peran Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilainya memiliki kemampuan serta kemauan politik untuk memanfaatkan kewenangan jabatannya demi mencari terobosan solusi bagi Gaza.
Baca Juga: Prabowo Lantang di Hadapan Trump: Indonesia Gabung Board of Peace untuk Perdamaian Palestina!
Rubio juga menilai bahwa situasi di Gaza saat ini tidak mungkin diselesaikan melalui pendekatan lama atau mekanisme yang telah ada. Karena itu, inisiator BoP mengajukan persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membentuk kelompok tersebut dan menggalang partisipasi berbagai negara guna merumuskan solusi yang sangat spesifik bagi Gaza.
“Kita masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ini akan membutuhkan kontribusi dari setiap negara yang diwakili di sini hari ini,” ucap Rubio.
“Kami berterima kasih atas keterlibatan Anda, dan kami berharap ini dapat menjadi model bagi situasi-situasi kompleks dan sulit lainnya agar dapat diselesaikan dengan cara yang sama,” katanya kepada para perwakilan pemerintah negara peserta.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di pertemuan Board of Peace di Washington DC, Kamis, 19 Februari 2026. (Istimewa)
Menegaskan visi BoP, Rubio menekankan bahwa kelompok tersebut harus memastikan setiap langkah yang diambil tepat dan tidak memiliki rencana alternatif. Menurutnya, rencana cadangan berarti kembali pada konflik bersenjata, sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
“Rencana A, satu-satunya jalan ke depan, adalah membangun kembali Gaza dengan cara yang menciptakan perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan, di mana semua orang dapat hidup berdampingan tanpa harus khawatir kembali pada konflik, perang, penderitaan manusia, dan kehancuran,” ucap Menlu AS itu.
Prabowo Subianto dalam pertemuan Board of Peace (Istimewa)