Ketegangan Timur Tengah Meningkat, AS Evakuasi Puluhan Staf Kedubes dari Lebanon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Feb 2026, 06:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL). (ANTARA/Anadolu/py/am.) Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL). (ANTARA/Anadolu/py/am.) (Antara)

Ntvnews.id, Beirut - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengevakuasi puluhan personel Kedutaan Besarnya di Lebanon pada Senin, 23 Februari 2026 waktu setempat. Evakuasi tersebut dilakukan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran, yang memiliki hubungan erat dengan kelompok Syiah Hizbullah di Lebanon.

Dilansir dari Anadolu, Rabu, 25 Februari 2026, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS yang tidak disebutkan namanya, memastikan bahwa personel diplomatik AS non-darurat serta anggota keluarga mereka yang memenuhi syarat telah dipindahkan dari misi diplomatik di Beirut.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa pengurangan jumlah personel kedutaan itu bersifat "sementara".

"Ini merupakan langkah sementara yang dimaksudkan untuk memastikan keselamatan personel kami, sembari mempertahankan kemampuan kami untuk beroperasi dan membantu warga negara AS," kata pejabat senior Departemen Luar Negeri AS tersebut.

Baca Juga: Lebih dari 1.800 Personel Pasukan Perdamaian PBB Tinggalkan Lebanon Selatan

Menurut sumber keamanan Lebanon yang berbicara kepada AFP, sekitar 40 personel Kedutaan Besar AS telah meninggalkan Lebanon melalui Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut pada Senin, 23 Februari 2026 waktu setempat.

Pejabat senior AS itu menjelaskan bahwa perintah evakuasi berlaku bagi staf non-darurat dan anggota keluarga mereka, sementara Kedutaan Besar AS di Beirut tetap beroperasi.

"Kami terus menilai situasi keamanan, dan berdasarkan peninjauan terbaru, kami memutuskan bahwa akan bijaksana untuk mengurangi jumlah personel kami menjadi hanya para personel penting," jelasnya.

Sejak 7 Oktober 2023, Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan lebih dari 22 miliar dolar AS (sekitar Rp356,7 triliun) untuk mendukung operasi militer Israel, termasuk di Gaza, Lebanon, dan Suriah. ANTARA/Anadolu/py <b>(Antara)</b> Sejak 7 Oktober 2023, Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan lebih dari 22 miliar dolar AS (sekitar Rp356,7 triliun) untuk mendukung operasi militer Israel, termasuk di Gaza, Lebanon, dan Suriah. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

"Kedutaan Besar tetap beroperasi dengan para staf inti," tegas pejabat senior AS tersebut.

Dalam pernyataan melalui media sosial X, Kedutaan Besar AS menyampaikan bahwa personelnya di Lebanon "dilarang melakukan perjalanan pribadi tanpa izin terlebih dahulu".

"Pembatasan perjalanan tambahan dapat diberlakukan pada personel AS di bawah tanggung jawab keamanan Kepala Misi, dengan sedikit atau tanpa pemberitahuan karena meningkatnya masalah atau ancaman keamanan," demikian pernyataan Kedutaan Besar AS untuk Lebanon.

Baca Juga: Presiden Lebanon Perintahkan Militer Balas Serangan Israel

Trump sebelumnya memerintahkan pengerahan aset militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah dan mengancam akan menyerang Iran jika tidak tercapai kesepakatan terkait isu-isu utama, terutama program nuklir Teheran.

Ancaman tersebut muncul di tengah kembali digelarnya perundingan nuklir antara Washington dan Teheran, dengan putaran terbaru dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 25 Februari 2026 di Jenewa, Swiss. Pemerintah Iran pun menantikan perundingan lanjutan itu sebagai upaya diplomasi terakhir.

x|close