Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Selandia Baru mengumumkan penutupan sementara kedutaan besarnya di Teheran, Iran, serta memulangkan seluruh diplomat yang bertugas di negara tersebut. Langkah ini diambil menyusul kondisi keamanan di Iran yang dinilai semakin tidak kondusif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Selandia Baru menyampaikan bahwa seluruh staf diplomatik telah meninggalkan Iran dengan aman menggunakan penerbangan komersial pada Kamis malam. Pernyataan itu disampaikan kepada media pada Jumat, 16 Januari 2026.
Dalam keterangannya, pemerintah Selandia Baru menyebut operasional Kedutaan Besar di Teheran untuk sementara dialihkan ke Ankara, Turki, seiring dengan "situasi keamanan yang memburuk" di Iran.
Selain itu, pemerintah Selandia Baru kembali mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya. "Kami terus menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke Iran. Warga Selandia Baru yang saat ini berada di negara itu harus segera pergi," kata juru bicara tersebut, dilansir dari AFP, Sabtu, 17 Januari 2026.
Baca Juga: Trump Serukan Warga Iran Terus Demonstrasi, Sebut Bantuan Segera Datang
Kementerian Luar Negeri Selandia Baru juga mengakui keterbatasan mereka dalam memberikan perlindungan dan bantuan konsuler. Disebutkan, kemampuan yang dimiliki saat ini tergolong "sangat terbatas" untuk membantu warga Selandia Baru yang masih berada di Iran.
Situasi di lapangan diperparah oleh gangguan komunikasi yang serius. Menurut pihak kementerian, kondisi tersebut menyulitkan warga untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun teman di Iran. Pemerintah pun menyarankan warga Selandia Baru di sana agar segera menghubungi kerabat mereka jika memungkinkan.
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)
Sementara itu, sejumlah pengamat dan saksi mata menilai gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran telah memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 47 tahun sejarah Republik Islam Iran. Aksi protes berlangsung di berbagai kota dan melibatkan sebagian besar elemen masyarakat.
Baca Juga: DPR: RUU Perampasan Aset Dirancang Bisa Rampas Aset Tanpa Putusan Pengadilan
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman akan "menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah" apabila otoritas Iran bertindak represif terhadap para demonstran. Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat "siap membantu" para pengunjuk rasa.
Merespons pernyataan Trump, pemerintah Iran menyatakan kesiapan untuk membalas dengan menyerang sekutu serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang terjadi merupakan hasil manipulasi oleh "musuh-musuh Iran".
Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. (Antara)