Ntvnews.id, Jakarta - Kondisi ekonomi Iran saat ini digambarkan “mati lemas” di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran. Salah satu tanda paling mencolok dari krisis ini adalah amblesnya nilai mata uang nasional, rial, yang kini hampir tidak bernilai.
Penelusuran yang dilakukan pada Rabu (14/1/2026) pukul 09.21 WIB menunjukkan bahwa 1 rial Iran sama sekali tidak memiliki nilai tukar terhadap euro, dan hal serupa berlaku bila dikonversi ke dolar Amerika Serikat (AS).
Situs Bonbast mencatat, 1 dolar AS setara dengan 141.950 toman. Mengingat 1 toman bernilai 10 rial, maka 1 dolar AS kini setara 1.419.500 rial Iran. Jika dikonversi ke rupiah, data Google menyebut 1 rial Iran senilai 0,015 rupiah.
Baca Juga: Fenomena Langka, Jepang Impor Mobil Buatan Sendiri dan Tertinggi dalam 30 Tahun
Penyebab Mata Uang Iran Terjun Bebas
Keambrukan nilai rial Iran merupakan hasil kombinasi tekanan struktural dan eksternal selama bertahun‑tahun. Tidak ada satu faktor tunggal, tetapi beberapa penyebab utama berikut menjelaskan mengapa mata uang Iran jatuh sedemikian parah:
1. Inflasi Sangat Tinggi
Inflasi yang kronis telah menggerus daya beli rial secara drastis, mendorong masyarakat mencari aset yang lebih stabil seperti dolar atau emas. Defisit fiskal dan pelemahan ekonomi berkontribusi pada laju inflasi yang melonjak di atas 40%. Ketika harga terus naik, kepercayaan publik terhadap mata uang domestik menurun, mempercepat pelemahan nilai tukar.
2. Sanksi Internasional yang Berat
Sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB sejak 2018 telah memutus akses Iran ke pasar global dan mata uang asing, terutama karena pembatasan ekspor minyak dan pembekuan akses perbankan internasional. Hal ini membuat cadangan devisa menipis, menghambat kemampuan negara mempertahankan nilai rial dan memenuhi kebutuhan impor.
Baca Juga: Kemenhut Data Kayu Hanyutan Pascabanjir di Agam untuk Dimanfaatkan Masyarakat
3. Masalah Kebijakan Ekonomi Domestik
Ketergantungan pada ekspor minyak, pengelolaan moneter yang longgar (termasuk pencetakan uang untuk menutup defisit anggaran), serta korupsi dan kurangnya reformasi struktural semakin melemahkan stabilitas ekonomi. Ketika pemerintah mencetak lebih banyak uang untuk menutupi kekurangan anggaran, hal ini makin memperparah inflasi dan depresiasi rial.
4. Ketidakpastian Politik dan Geopolitik
Ketegangan berkepanjangan di kawasan dan isolasi diplomatik mendorong ketidakpastian pasar. Investor enggan menanam modal, sementara warga negara cenderung menukarkan rial ke mata uang lebih aman, sehingga tekanan jual terhadap rial meningkat.
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)