Awalnya Ditolak, Kini Diterima Penuh: Perjalanan MBG di PAUD Kartasura

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Mar 2026, 23:30
thumbnail-author
Alber Laia
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Cita Restuningrum, Kepala PAUD Anak Hebat, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Cita Restuningrum, Kepala PAUD Anak Hebat, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. (Dok.Ntvnews.id)

Ntvnews.idSukoharjo - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak selalu langsung diterima dengan tangan terbuka. Cita Restuningrum, Kepala PAUD Anak Hebat, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah berhasil meyakinkan orang tua murid bahwa program ini baik untuk anak-anak mereka.

Cita mengakui, pada awalnya mayoritas wali murid menolak program MBG.

Baca Juga: Seskab: MBG Tak Kurangi Anggaran Pendidikan

Bagi Cita, proses tersebut bukan sekadar soal makanan, tetapi juga edukasi. Dengan pendekatan terbuka dan melibatkan orang tua, program MBG perlahan diterima dan menjadi bagian dari keseharian anak-anak di sekolahnya.

Cita lantas membagikan angket ke orang tua murid. Dalam angket tersebut, pihak sekolah menanyakan secara terbuka persetujuan orang tua. Hasilnya mayoritas orang tua siswa menolak MBG.

“Siapa yang setuju anaknya diberikan MBG? Adakah yang tidak setuju? Seperti itu. Nah, 70 persen itu orang tua tidak setuju diberikan MBG anaknya,” ujar dia.

Kekhawatiran itu, menurutnya, dipengaruhi berbagai informasi yang beredar di luar. “Karena, ya berita di luar kan ya Mas ya, banyak yang keracunan lah, kemudian basi lah, dan sebagainya,” katanya.

Alih-alih memaksa, Cita memilih pendekatan persuasif. Ia mengusulkan masa percobaan selama satu minggu.

“Nah, terus akhirnya saya bilang, bagaimana kalau kita mencoba dulu? Mencoba satu minggu. Anak diberikan MBG, tapi tidak dimakan oleh anak, MBG-nya saya suruh bawa pulang. Supaya orang tua melihat menunya itu apa,” jelasnya.

Selama masa uji coba tersebut, komite sekolah yang terdiri atas perwakilan wali murid turut mendampingi dan mengamati langsung menu yang disajikan setiap hari.

Jika ada anak yang ingin mencicipi, guru memperbolehkan. Namun, jika orang tua belum mengizinkan, makanan tetap dibawa pulang agar dapat diperiksa langsung di rumah.

Setelah satu minggu berlalu, pihak sekolah kembali meminta pendapat wali murid. Hasilnya, berubah signifikan.

“Terus di minggu kedua saya tanya, bagaimana Bunda, apakah mau menerima (MBG)? Akhirnya orang tua mau. Ini aman ya, nggak apa-apa tuh. Akhirnya sudah, anak-anak semuanya diberikan MBG,” ungkapnya.

Mengenalkan makanan baru kepada anak usia dini membutuhkan kesabaran. Guru harus membujuk perlahan agar anak mau mencoba, apalagi bertujuan untuk mengedukasi anak, etika, adat serta pengenalan komponen gizi yang terkandung dalam makanan.

“Nah, itu yang jadi tantangan untuk guru. Gimana caranya supaya anak akhirnya mau mencoba, mau makan, walaupun ya mungkin sesuap dua suap, yang penting dia sudah mengenal,” jelasnya.

x|close