Indonesia Serukan Dialog Inklusif untuk Redakan Eskalasi Konflik Yaman

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jan 2026, 07:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Orang-orang mencari korban yang masih hidup di sebuah penjara yang hancur akibat serangan udara di Saada, Yaman, Sabtu 22 Januari 2022. ANTARA FOTO/Xinhua/Mohammed Mohammed/rwa. Arsip foto - Orang-orang mencari korban yang masih hidup di sebuah penjara yang hancur akibat serangan udara di Saada, Yaman, Sabtu 22 Januari 2022. ANTARA FOTO/Xinhua/Mohammed Mohammed/rwa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengimbau seluruh pihak yang terlibat konflik di wilayah Yaman selatan agar mengutamakan dialog yang inklusif dan menyeluruh sebagai jalan keluar menuju penyelesaian yang adil.

Melalui pernyataan yang disampaikan di platform X pada Rabu, 7 Januari 2026, Kemlu menyatakan bahwa Indonesia mencermati secara serius peningkatan ketegangan yang terjadi sejak 30 Desember, menyusul langkah pasukan Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC) yang mengambil alih wilayah Hadhramaut dan Al-Mahra pada awal Desember.

“Indonesia mengikuti dengan saksama perkembangan terkini di Republik Yaman, khususnya dinamika di Yaman selatan, seraya mendorong semua pihak terkait untuk berpartisipasi secara konstruktif, menahan diri, dan mengedepankan dialog politik yang inklusif dan komprehensif; dalam menyelesaikan perbedaan,” tulis Kemlu.

Baca Juga: Serangan Udara Koalisi Arab di Yaman Menewaskan 20 Orang di Ad Dali

Sebagai bagian dari upaya mendorong penyelesaian yang adil dan damai di Yaman selatan, Indonesia juga menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Arab Saudi untuk menyelenggarakan konferensi komprehensif yang membahas solusi atas persoalan tersebut.

“Indonesia menyambut baik upaya Kerajaan Arab Saudi untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi komprehensif di Riyadh yang akan mempertemukan seluruh faksi yang ada di Yaman selatan,” tulis Kemlu.

Tangkapan layar menunjukkan kebakaran akibat serangan udara oleh jet tempur Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla, Hadramout, Yaman, 30 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Stringer/aa) <b>(Antara)</b> Tangkapan layar menunjukkan kebakaran akibat serangan udara oleh jet tempur Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla, Hadramout, Yaman, 30 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Stringer/aa) (Antara)

Situasi di Yaman dilaporkan mengalami peningkatan ketegangan yang signifikan sejak 30 Desember, setelah pasukan STC menguasai wilayah Hadhramaut dan Al-Mahra pada awal bulan lalu.

Dua provinsi tersebut mencakup hampir separuh wilayah Yaman dan memiliki batas langsung dengan Arab Saudi.

Baca Juga: Arab Saudi-Yaman Memanas

Pada waktu yang sama, Arab Saudi menuding Uni Emirat Arab berada di balik dorongan kepada pasukan STC untuk melancarkan operasi militer di sepanjang perbatasan selatan wilayah Kerajaan Arab Saudi, khususnya di Hadhramaut dan Al-Mahra. Tuduhan itu kemudian dibantah oleh pihak Abu Dhabi.

STC sendiri menyatakan bahwa pemerintah Yaman selama ini telah meminggirkan kawasan selatan secara politik dan ekonomi, serta kembali menyuarakan tuntutan pemisahan diri.

Di sisi lain, otoritas Yaman menolak tudingan tersebut dan menegaskan kembali komitmen mereka untuk menjaga keutuhan dan persatuan negara.

HIGHLIGHT

x|close