Ntvnews.id
Laporan Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat menyebutkan, AS mendesak Iran menutup tiga fasilitas utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Selain itu, Iran juga diminta menyerahkan sekitar 10.000 kilogram uranium diperkaya yang saat ini dimiliki.
Dalam isu pengayaan nuklir, Washington menerapkan kebijakan toleransi nol.
Meski demikian, terdapat kemungkinan Iran tetap diizinkan mengoperasikan reaktor di Teheran, namun hanya untuk pengayaan tingkat rendah yang sangat terbatas dan semata-mata untuk kepentingan medis.
Baca Juga: Trump Tak Akan Biarkan Iran Punya Senjata Nuklir
Sehari sebelumnya, Rabu, 25 Februari 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui bahwa Iran saat ini tidak melakukan pengayaan uranium.
Kendati demikian, tawaran keringanan sanksi dari Washington disebut masih terbatas pada tahap awal, dengan peluang pelonggaran lebih lanjut apabila Iran menunjukkan kepatuhan berkelanjutan.
Media Axios melaporkan bahwa perundingan di Jenewa berlangsung dalam dua skema, yakni tidak langsung dan langsung antara perwakilan kedua negara.
Meski begitu, baik AS maupun Iran belum secara terbuka mengonfirmasi adanya dialog tatap muka secara langsung.
Washington juga memberi sinyal fleksibilitas terhadap tuntutan Iran untuk tetap mempertahankan hak pengayaan uranium, asalkan Teheran dapat memberikan jaminan bahwa aktivitas tersebut tidak mengarah pada pengembangan senjata nuklir.
Walau AS memiliki kepentingan agar Iran membatasi program rudal balistik serta dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, isu-isu tersebut tidak menjadi fokus utama dalam sesi kali ini karena pembahasan dipusatkan pada persoalan nuklir.
Perundingan di Jenewa disebut sebagai yang terpanjang dari tiga sesi yang dimediasi Oman, dengan durasi lebih dari tiga setengah jam dan diperkirakan akan berlanjut pada tahap berikutnya.
Baca Juga: Trump Tegaskan AS Tak Akan Izinkan Iran Miliki Senjata Nuklir
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeli Baghaei menyatakan pembicaraan berlangsung dalam suasana “intensif dan serius”.
Ia mengatakan kedua pihak telah menyampaikan “proposal yang signifikan dan praktis” terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi.
Baghaei juga menyinggung adanya “pernyataan kontradiktif” dari sejumlah pejabat AS selama proses negosiasi.
Hingga kini, pemerintah AS belum mengeluarkan pernyataan resmi tambahan mengenai perkembangan perundingan tersebut.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)