China Awasi Korut yang Beru Sinyal Bakal Buka Dialog dengan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Feb 2026, 04:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, 30 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) Arsip - Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, 30 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China menyatakan terus mencermati perkembangan di Semenanjung Korea setelah pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memberi isyarat rekonsiliasi kepada Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menekankan bahwa stabilitas kawasan merupakan kepentingan bersama seluruh pihak terkait.

"Semenanjung yang damai dan stabil serta penyelesaian masalah secara politik adalah kepentingan semua pihak," ujar Mao dalam konferensi pers di Beijing, sebagaimana dikutip dari Xinhua, Jumat, 27 Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Kim Jong Un, saat menutup agenda penting Partai Pekerja Korea (WPK) pada Rabu, membuka peluang perbaikan hubungan dengan Washington.

Meski demikian, Kim mengajukan prasyarat tegas: Amerika Serikat harus menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan dan mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Baca Juga: Iran Hampir Sepakati Pembelian Rudal Supersonik dari China di Tengah Ketegangan dengan AS

Walaupun menawarkan peluang dialog, dokumen kebijakan lima tahunan Korea Utara memperlihatkan sikap yang bertolak belakang. Kim menegaskan bahwa Pyongyang tetap "sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi dengan AS di masa depan."

Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa penguatan kapabilitas nuklir masih menjadi pilar utama strategi pertahanan nasional. Ini menandakan bahwa Pyongyang tidak berniat menghentikan program senjata nuklirnya, kecuali terjadi perubahan besar dalam konstelasi geopolitik global.

Langkah diplomatik ini muncul ketika Washington disebut siap mengaktifkan kembali dialog dengan Pyongyang sejak Donald Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS.

Meski Trump dan Kim telah tiga kali menggelar pertemuan sebelumnya, negosiasi terkait program nuklir kedua negara sejauh ini masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik.

x|close