Ntvnews.id, Caracas- Masa depan pemerintahan Venezuela masih diliputi ketidakpastian setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap oleh militer Amerika Serikat (AS). Hingga kini, keberadaan Maduro dan ibu negara Cilia Flores belum diketahui, sehingga kelangsungan rezim yang berkuasa berada dalam tanda tanya besar.
Situasi ini dipandang oleh kelompok oposisi, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar Venezuela, sebagai momentum penting untuk merebut kendali kekuasaan. Oposisi Venezuela menegaskan bahwa presiden yang sah adalah Edmundo González, seorang politikus yang saat ini hidup di pengasingan.
Sejumlah figur disebut-sebut berpeluang mengisi kekosongan kekuasaan. Tim Lister, jurnalis senior CNN International yang fokus pada isu keamanan, menguraikan tiga kemungkinan skenario yang dapat terjadi setelah Maduro didepak oleh AS.
Skenario pertama: jalur konstitusional
Mengacu pada konstitusi Venezuela, apabila presiden mengalami kondisi “ketiadaan mutlak”, maka kekuasaan akan dialihkan kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Berdasarkan ketentuan hukum, Delcy akan mengambil alih pemerintahan dan menggelar pemilihan umum dalam waktu 30 hari. Presiden terpilih kemudian akan menjabat penuh selama enam tahun.
Skenario kedua: runtuhnya rezim Maduro
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026 mempublikasikan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Istimewa)
Apabila pemerintahan Maduro kolaps dan para pejabat senior memilih mundur atau melarikan diri, maka kubu oposisi berpotensi mengambil alih. Sosok yang paling memungkinkan adalah Edmundo González Urrutia, peserta Pilpres 2024 sekaligus rival Maduro.
González dikenal sebagai akademisi dan diplomat senior yang kini berada di pengasingan di Spanyol. Ia mendapat dukungan dari aktivis demokrasi peraih Nobel Perdamaian, María Corina Machado.
Baca Juga: Trump Klaim AS Ambil Alih Venezuela Usai Tangkap Presiden Maduro
Machado bahkan mengklaim bahwa gerakannya tengah mempersiapkan proses transisi yang tertib dan damai setelah Maduro lengser. Pada Desember 2024, ia juga menyebut pernah ditawari posisi wakil presiden oleh González.
Skenario ketiga: pengambilalihan oleh militer
Dalam kondisi ketiadaan presiden, pemerintahan juga berpotensi dipimpin oleh Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López. Usai serangan AS, López menegaskan bahwa Venezuela akan melawan kehadiran pasukan asing di wilayahnya.
"Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah dialami negara," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan pada Sabtu, dengan menyatakan bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Trump, Maduro bersama istrinya dilaporkan sedang diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela, sebagaimana dilansir New York Times.
Baca Juga: Media AS Sebut CIA Dalangi Serangan Drone ke Dermaga di Venezuela
Pengumuman tersebut menjadi puncak dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari tampuk kekuasaan. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyebut Amerika Serikat telah melancarkan "serangan skala besar terhadap Venezuela" dan menegaskan bahwa operasi militer itu dilakukan "bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS."
"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump.
Sebelum pernyataan resmi tersebut, militer AS dilaporkan telah melakukan serangan di Caracas dan sejumlah wilayah lain di Venezuela. Serangan itu memicu ledakan besar di pangkalan militer utama Fortuna pada Sabtu, pagi waktu setempat. Saksi mata di Caracas juga melaporkan terlihat kepulan asap hitam pekat dari fasilitas militer tersebut, disertai suara jet tempur yang terbang rendah.
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)