Presiden Taiwan Tegaskan Pertahankan Kedaulatan di Tengah Tekanan Militer China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jan 2026, 06:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato saat perayaan Hari Nasional di Taipei, Taiwan pada 10 Oktober 2025. Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato saat perayaan Hari Nasional di Taipei, Taiwan pada 10 Oktober 2025. (CNA)

Ntvnews.id, Taipei - Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Kamis, 1 Januari 2026 menegaskan komitmen pulau tersebut untuk menjaga kedaulatan sekaligus memperkuat pertahanan nasional, seiring meningkatnya aktivitas militer Tiongkok (China) di kawasan.

Penegasan itu disampaikan setelah Beijing menggelar latihan militer yang mencakup peluncuran roket ke arah Taiwan. Dalam pidato Tahun Baru 2026 yang disiarkan langsung dari kantor kepresidenan, Lai menyatakan bahwa dunia internasional tengah menilai sejauh mana tekad rakyat Taiwan dalam mempertahankan diri.

“Sebagai presiden, sikap saya selalu jelas: mempertahankan kedaulatan nasional secara tegas dan memperkuat pertahanan negara,” ujarnya, dikutip dari AsiaOne, Jumat, 2 Januari 2026.

Baca Juga: Latihan Militer China di Sekitar Taiwan Dikecam Dunia, Beijing: Munafik

Lai juga menyinggung latihan militer Tiongkok yang berlangsung pekan ini, di mana kemampuan tempur baru Taiwan dijadikan sebagai lawan hipotetis. Menurutnya, kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya percepatan pengadaan alat pertahanan.

Ia pun mendesak partai-partai oposisi untuk mendukung rencana peningkatan anggaran pertahanan hingga USD40 miliar, yang saat ini masih tersendat akibat kebuntuan politik di parlemen yang dikuasai oposisi.

Masa Depan Krusial Taiwan

Menanggapi laporan Amerika Serikat yang menyebut Tiongkok tengah mempersiapkan kemampuan guna memenangkan konflik terkait Taiwan pada 2027, Lai menilai pencapaian target Beijing merupakan tantangan tersendiri.

“Tahun 2026, akan menjadi tahun yang krusial bagi Taiwan,” katanya. Ia menegaskan Taiwan perlu bersiap menghadapi skenario terburuk, sembari tetap berharap pada hasil terbaik.

Meski demikian, Lai menekankan bahwa Taiwan tetap membuka ruang dialog dengan Tiongkok. “Kami bersedia menjalin pertukaran dan kerja sama dengan Tiongkok atas dasar setara dan bermartabat, demi mendorong lingkungan damai dan berbagi di seberang selat,” ujarnya.

Peta Taiwan dan China <b>(VOA)</b> Peta Taiwan dan China (VOA)

Menurut Lai, dialog tersebut hanya dapat terwujud jika Tiongkok mengakui keberadaan Republik Tiongkok serta menghormati keinginan rakyat Taiwan untuk hidup dalam sistem demokratis dan bebas.

Tiongkok sendiri mengklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut. Klaim itu secara konsisten ditolak oleh Taiwan.

Latihan Militer Tiongkok

Pidato Lai disampaikan dua hari setelah Tiongkok menggelar latihan militer bertajuk Justice Mission 2025. Dalam latihan itu, Beijing meluncurkan puluhan roket ke arah Taiwan serta mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur dalam jumlah besar di sekitar pulau. Aksi tersebut memicu kekhawatiran sejumlah mitra Barat, termasuk Komisi Eropa dan Inggris.

Pemerintah Taiwan mengecam latihan itu sebagai bentuk provokasi terbuka dan ancaman terhadap stabilitas kawasan. Beijing pada Rabu malam menyatakan latihan telah berakhir, sembari menegaskan militernya akan terus meningkatkan kesiapan tempur.

Baca Juga: Taiwan Gertak Balik, Kerahkan F-16 dan Kapal Perang Hadapi Latihan Militer Skala Besar China

Presiden Tiongkok Xi Jinping, dalam pidato Tahun Baru pada Rabu malam, kembali memperingatkan apa yang disebut Beijing sebagai kekuatan separatis. Ia menegaskan bahwa penyatuan kembali Tiongkok dengan Taiwan tidak dapat dihentikan.

Latihan militer tersebut yang disebut sebagai yang terbesar dari sisi cakupan wilayah dan paling dekat dengan Taiwan sejauh ini memaksa Taiwan membatalkan puluhan penerbangan domestik serta mengerahkan jet tempur dan kapal perang untuk memantau pergerakan militer Tiongkok.

Manuver Beijing berlangsung 11 hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata senilai USD11,1 miliar untuk Taiwan. Untuk pertama kalinya, militer Tiongkok menyatakan bahwa latihan tersebut secara khusus ditujukan untuk mencegah campur tangan pihak luar.

x|close