Kepala BRIN Tantang Peneliti Sederhanakan Bahasa Riset

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Okt 2026, 11:16
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menantang para periset di Indonesia agar mampu menyederhanakan bahasa riset sehingga lebih mudah dicerna oleh masyarakat luas.

Berdasarkan keterangan yang dikutip di Jakarta pada Senin (5/10), Arif menekankan bahwa kemampuan mengomunikasikan hasil riset secara populer sangat esensial untuk mendongkrak literasi publik. Mengingat latar belakang keilmuan masyarakat yang beragam, ia mengingatkan para ilmuwan untuk tidak menyamakan cara berkomunikasi di ruang publik dengan forum ilmiah.

"Publik tidak bisa berada dalam satu bahasa dengan kita," ujar Arif.

Ia menjelaskan, para peneliti tetap diperbolehkan menggunakan tingkat abstraksi dan istilah teknis yang sesuai dengan kapasitas audiens saat berada di forum ilmiah. Kendati demikian, penyesuaian kosakata, bahasa, dan tingkat abstraksi menjadi sebuah keharusan ketika temuan riset tersebut dibawa ke ruang publik agar substansinya dapat diterima dengan baik.

"Begitu kita masuk dalam dunia populer, kemampuan kita harus menurunkan vocabulary, menurunkan abstraksi, menurunkan bahasa-bahasa yang tinggi sehingga mudah dipahami oleh masyarakat," paparnya.

Lebih lanjut, Arif menilai bahwa kepiawaian menyederhanakan hasil penelitian sekaligus mencerminkan tingkat penguasaan seseorang terhadap bidang ilmu yang digelutinya. Ia mengilustrasikannya seperti tantangan bagi seorang pemegang gelar doktor untuk memaparkan isi disertasinya dalam durasi singkat, yakni hanya satu menit.

Menurutnya, periset dituntut untuk jeli mengidentifikasi inti sari dari riset mereka dan menyajikannya secara ringkas. Kompetensi semacam ini dinilai kian mendesak di tengah dinamika komunikasi publik modern yang menuntut penyampaian pesan secara padat, singkat, dan mudah dipahami, termasuk penyesuaian dengan karakter media sosial.

Di samping komunikasi kepada masyarakat, Arif turut menyoroti pentingnya keahlian periset dalam merumuskan pesan kepada para pengambil kebijakan. Ia membagikan pengalamannya saat mendampingi peneliti menghadap Presiden, di mana mereka diminta untuk langsung memaparkan inti inovasinya secara ringkas.

Latihan komunikasi semacam ini, imbuh Arif, krusial agar para periset senantiasa siap menyampaikan gagasan secara efektif dalam berbagai situasi dan format.

 
(Sumber: Antara)
 
x|close