Sambut Indonesia Emas 2045, BRIN Buka Peluang Kolaborasi Teknologi Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Sep 2026, 10:35
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang negara-negara sahabat untuk menjalin kolaborasi melalui skema co-development. Langkah ini diambil guna memperkuat penguasaan teknologi di masing-masing negara secara bersama-sama.

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa skema co-development menjadi salah satu langkah strategis lembaga yang dipimpinnya menuju Indonesia Emas 2045, selain mendorong penguatan riset serta teknologi bagi UMKM dan sektor industri.

"Co-development itu kita harapkan dari berbagai negara, sehingga kita mengundang hari ini para duta besar negara-negara yang memang memiliki sejumlah teknologi unggulan. Dan teknologi ini sebagian besar bisa kita terapkan di Indonesia melalui proses co-development bersama BRIN dan para periset di Indonesia untuk diterapkan (demi) berbagai keperluan pembangunan kita," ujar Arif Satria dalam kegiatan Kick-Off Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di Jakarta, Selasa (8/9).

Arif optimistis Indonesia mampu melesat menjadi negara maju apabila kerja sama pengembangan teknologi ini segera dieksekusi bersama negara-negara mitra. Menurutnya, momentum ini sangat tepat untuk saling melengkapi penguasaan teknologi antarnegara demi membangun kekuatan bersama yang dapat diterapkan di tanah air.
 

"Dalam konteks inilah kemudian kita ini telah membangun kontribusi pada industri, kontribusi UMKM maka kita bisa melihat ada tipe-tipe teknologi seperti apa yang akan kita kembangkan," lanjutnya.

Khusus untuk dukungan terhadap UMKM, Arif menekankan pentingnya sinergi lintas pihak. Hal ini krusial agar inovasi tidak berhenti di tengah jalan atau terjebak dalam jurang pemisah antara riset dan industri (the valley of death). Ia menegaskan bahwa BRIN bertugas memecahkan persoalan tersebut agar hasil inovasi semakin berdampak nyata.

Guna memastikan riset memberikan manfaat konkret, BRIN mengusung beberapa prinsip utama, yakni mengalirkan hasil laboratorium ke kehidupan nyata (from lab to life), menyambungkan dunia riset ke industri (from research to industry), mengantarkan purwarupa hingga siap dipasarkan (from prototype to market), serta mengolah pengetahuan menjadi kesejahteraan masyarakat (from knowledge to prosperity).

"Dampak ini menjadi orientasi dari BRIN hari ini, sehingga yang selalu kita ukur adalah seberapa besar riset-riset dan teknologi kita hasilkan itu bisa membawa kemanfaatan bagi kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana riset juga bisa dirasakan manfaatnya oleh ibu-ibu di dapur, oleh petani-petani di sawah, maupun oleh para astronot, para kosmonot yang memang memiliki misi di luar angkasa. Inilah spektrum yang saya kira sangat luas di BRIN," papar Arif.

Ia memungkas bahwa keberadaan BRIN ditargetkan untuk terus membawa dampak positif di empat area utama.
 

"Sehingga dengan orientasi BRIN itulah BRIN selalu berperan bagaimana memiliki dampak pada ilmu pengetahuan, bagaimana BRIN memiliki dampak pada kebijakan pemerintah, bagaimana BRIN punya dampak pada industri dan bagaimana BRIN berdampak kepada masyarakat," kata Arif Satria.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close