Kepala BRIN Sebut Tepung Singkong Padamkan Karhutla Masuk Akal, tetapi Masih Dikaji

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Agu 2026, 16:14
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan penggunaan tepung singkong atau ubi untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara teoritis memungkinkan dan masuk akal. Namun, Arif menyatakan, BRIN akan mengkaji lebih dalam terkait usulan yang sebelumnya disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tersebut.

"Kami sampaikan Bapak Kapolri bahwa secara saintifik sebenarnya itu hal yang yang masuk akal, sesuatu yang yang bisa. Nah, sehingga sekarang begitu saya mendapat berita itu kemudian kita lakukan kajian secara teoritik, para ahli kimia molekuler yang ada di BRIN melakukan kajian danblangsung disampaikan bahwa memang itu secara teoritik betul," kata Arif di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

Saat ini, kata Arif, BRIN sedang bekerja sama dengan Polri melakukan uji coba untuk berbagai skala. Hal ini penting lantaran keberhasilan tepung singkong atau ubi memadamkan karhutla masih dalam skala kecil. Selain itu, perlu kajian mengenai mekanisme menebarkan tepung singkong ke lokasi karhutla.

 "Untuk skala besar kan kemudian dari sisi apa namanya campuran-campuran zat-zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa. Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji ya," katanya.

Baca Juga: Kondisi Terkini Gedung DPR: Pagar Dilas, Tembok Dicat Kembali

Arif menyatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta BRIN mengkaji berbagai opsi teknologi untuk mengatasi bencana karhutla. Selain mengkaji pengguna tepung singkong, BRIN juga terus mengkaji teknologi modifikasi cuaca

"Jadi teknologi modifikasi cuaca dengan dengan berbagai teknologi terkini itu saya kira bisa kita lakukan. Nah kami sudah koordinasi dengan TNI Angkatan Udara juga dengannBMKG karena memang operator untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca adalah BMKG. Jadi BRIN hanya melakukan kajian dan kemudian menyiapkan material-material melakukan riset-risetnya, kemudian yang melaksanakan adalah BMKG," katanya.

HIGHLIGHT

x|close