Pasca-Bencana Alam, BRIN Ingatkan Bahaya Amplifikasi Ekologi dan Wabah Penyakit

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Agu 2026, 15:56
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memberikan laporan pelaksanaan saat menggelar hasil riset dan inovasi dari BRIN di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memberikan laporan pelaksanaan saat menggelar hasil riset dan inovasi dari BRIN di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, memperingatkan bahwa bencana alam dapat memicu terjadinya fenomena amplifikasi ekologi. Kondisi ini berisiko tinggi memunculkan wabah penyakit tular vektor di tengah masyarakat pascabencana.

Dalam diskusi daring terkait penyakit menular pascabencana yang digelar di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026, Ristiyanto menjelaskan bahwa bencana tidak secara langsung menciptakan wabah, melainkan membentuk kondisi lingkungan ideal bagi vektor dan reservoir pembawa penyakit untuk berkembang biak secara masif.

"Jadi ada suatu urutan atau rantai dapat kita lihat secara sederhana. Bencana terjadi, lingkungan berubah, populasi atau distribusi vektor dan reservoir berubah, kontak dengan manusia meningkat, kemudian risiko penyakit ikut meningkat pula," ungkapnya.

Ristiyanto mencontohkan fenomena bencana seperti tsunami atau banjir yang kerap menyisakan genangan air tawar maupun payau. Sebaliknya, bencana kekeringan memaksa warga menampung air secara tidak higienis. Perubahan lingkungan tersebut secara radikal mengubah habitat alami vektor seperti nyamuk dan tikus.

Apabila kerusakan lingkungan tidak segera ditangani, proses pembesaran risiko atau amplifikasi ekologi akan berlangsung cepat.

"Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri," jelasnya.

Perubahan ekologi secara ekstrem tersebut berpotensi memicu kemunculan penyakit yang sebelumnya tidak ada atau tidak lazim di suatu daerah, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga leptospirosis dan salmonelosis.

Mengingat tingginya ancaman tersebut, Ristiyanto menekankan krusialnya kecepatan respons dalam membaca sinyal perubahan alam sebelum fasilitas pelayanan dasar masyarakat di lokasi terdampak ikut lumpuh.

"Jadi yang kita pantau bukan hanya jumlah penderita penyakit saja di sini, tetapi perubahan ekologi dapat menjadi sinyal sebelum peningkatan kasus itu terlihat," tutur Ristiyanto.

 
(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close