Ntvnews.id, Jakarta -Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo kian mengkhawatirkan setelah jumlah kasus terkonfirmasi menembus angka 5.000 dengan korban jiwa melampaui 2.320 orang. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika pada Senin (17/8) mengeluarkan peringatan serius bahwa krisis kesehatan ini berpotensi menjadi epidemi Ebola paling mematikan dalam sejarah dunia jika laju penularannya gagal diredam dengan cepat.
Tiga bulan sejak resmi diumumkan pada 15 Mei lalu, pergerakan virus Ebola strain Bundibugyo ini terbukti berkembang sangat ganas. Dalam laporan resminya, CDC Afrika mengakui bahwa eskalasi penularan saat ini telah "melampaui ekspektasi terburuk" pihak otoritas kesehatan.
Sebaran virus kini telah menjangkau enam provinsi di RD Kongo, meliputi Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Bas-Uele, dan Tshopo. Dengan rasio kematian kasus yang mendekati angka 50 persen, kondisi ini resmi menobatkan krisis yang terjadi sebagai wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah negara tersebut, sekaligus menjadi yang tercepat pertumbuhannya yang pernah tercatat.
Ganasnya pola penyebaran kian tergambar dari kecepatan penularan dan dampak fatal yang ditimbulkannya setiap jam.
"Saat ini, wabah itu merenggut satu nyawa setiap 30 menit. Jika laju penyebarannya tidak segera dihentikan, wabah ini berisiko menjadi wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat di dunia," kata badan tersebut.
Di tengah situasi krusial ini, CDC Afrika menyoroti langkah penanganan di negara tetangga, Uganda. Setelah berhasil menyatakan berakhirnya wabah Ebola Bundibugyo pada 28 Juli lalu, pendekatan Uganda dinilai bisa menjadi acuan nyata. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa keganasan virus tetap dapat dikendalikan apabila intervensi kesehatan masyarakat yang teruji diterapkan secara cepat, menyeluruh, serta menempatkan partisipasi aktif warga sebagai pusat dari seluruh upaya penanggulangan.
Baca juga: WHO: Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Terbesar Kedua Dalam Sejarah
ilustrasi - Virus. (Apnews.com)