Ntvnews.id, Jakarta -Republik Demokratik Kongo (DRC) kini tengah menghadapi krisis kesehatan publik yang kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa wabah ebola di wilayah tersebut menyebar dengan sangat cepat, menjadikannya sebagai epidemi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah negara itu.
Situasi darurat ini dipicu oleh paparan virus Bundibugyo (BVD). Melalui pernyataan resminya pada hari Sabtu, 1 agustus 2026, institusi kesehatan global tersebut menyoroti kondisi yang terus memburuk akibat penularan infeksi yang tidak kunjung reda.
"Wabah penyakit akibat virus Bundibugyo (BVD) di Republik Demokratik Kongo terus meningkat, dengan penularan yang berkelanjutan serta peningkatan jumlah kasus dan kematian yang terus berlanjut," demikian pernyataan tertulis WHO.
Tingkat fatalitas penyakit ini tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data rekapitulasi hingga 30 Juli, tercatat ada 3.605 kasus terkonfirmasi dengan total korban jiwa mencapai 1.587 orang, yang berarti rasio kematiannya menyentuh angka 44 persen.
Baca juga:Seluruh Penumpaang Kapal MV Hondius Dievakuasi Usai Wabah Virus Hanta Tewaskan Tiga Orang
"Peningkatan jumlah kasus yang terus terjadi, meluasnya penyebaran geografis, dan tingginya angka kematian menunjukkan perkembangan pesat keadaan darurat kesehatan masyarakat ini," sebut perwakilan WHO lebih lanjut.
Laju transmisi yang eksponensial tampak jelas dari lonjakan data dalam sepekan terakhir. Hanya dalam tujuh hari, muncul 567 kasus baru yang memakan 296 korban meninggal dunia.
Ekspansi geografis virus ini pun semakin sulit dibendung. Berawal dari Provinsi Ituri, wabah mematikan tersebut kini telah menjalar ke empat provinsi lainnya, yaitu Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, dan Tshopo. Akibatnya, sebanyak 49 zona kesehatan kini terdampak langsung oleh epidemi ini.
Melihat eskalasi yang begitu masif, WHO mendesak adanya peningkatan upaya penanganan berskala besar guna memutus rantai penyebaran. Jauh sebelum lonjakan tajam ini terjadi, tepatnya pada 17 Mei lalu, krisis ebola di Republik Demokratik Kongo beserta Uganda telah resmi ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Baca juga:Angka Kematian Tembus 1.521 Kasus, Risiko Wabah Ebola di Kongo Masih Tinggi
Hingga saat ini, kewaspadaan global tidak boleh diturunkan. Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa risiko penularan virus melintasi perbatasan menuju negara-negara lain di kawasan tersebut masih berada pada tingkat yang sangat tinggi.
(Sumber:Antara)
Jenazah dibawa ke kamar mayat Pusat Medis Nyankunde untuk proses pemakaman oleh tim kesehatan yang mengenakan pakaian pelindung sebagai bagian dari langkah-langkah pengendalian epidemi, setelah seorang warga yang terinfeksi virus Ebola meninggal di Bunia, Republik Demokratik Kongo (DRC), pada 13 Juni 2026. Anadolu Agency/pri. (Antara)