4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ini Penjelasan Pakar Geologi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 19:16
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026) Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Pakar Geologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Nana Sulaksana, menegaskan bahwa erupsi yang terjadi pada beberapa gunung api dalam kurun waktu yang berdekatan tidak memiliki keterkaitan langsung antara satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sistem magmatik pada tiap-tiap gunung api.

Prof Nana menjelaskan bahwa karakter tiap gunung api dibentuk oleh kedalaman dapur magma, lintasan magma menuju permukaan, serta kondisi struktur batuan geologi yang dilaluinya.

"Jadi secara langsung tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya. Setiap gunung api itu memiliki sistem sendiri-sendiri, tergantung kedalaman dapur magma, perjalanan magma, dan batuan yang dilalui," ujar Nana di Sumedang, Jawa Barat, Senin, 7 September 2026. 

Penjelasan tersebut menanggapi kekhawatiran masyarakat menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi hampir bersamaan dengan peningkatkan aktivitas di sejumlah gunung api lain, seperti Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, hingga Sinabung. Ia memastikan dinamika pada satu gunung tidak dapat dijadikan tolok ukur langsung untuk menilai kondisi gunung api lainnya.
 
 
Gunung Anak Krakatau Erupsi <b>(Instagram @spacex_spacenews)</b> Gunung Anak Krakatau Erupsi (Instagram @spacex_spacenews)

Terkait Gunung Anak Krakatau, Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad ini menyebut proses pemantauan vulkanik saat ini terus dimaksimalkan melalui pendekatan multi-instrumen. Pengawasan mencakup pemasangan seismograf minimal di tiga titik guna mendeteksi kegempaan pergerakan magma, serta instrumen geodetik berbasis GPS untuk memantau deformasi fisik tubuh gunung.

"Dalam kondisi pemantauan itu ada beberapa variabel yang dipantau, di antaranya pergerakan magma dari dalam perut bumi. Pergerakan ini terlihat dari seismograf," jelasnya.

Langkah pemantauan teknis ini turut diperkuat oleh pengamatan visual berkala, analisis emisi gas (multi-gas analysis), jaringan kamera CCTV terkoneksi internet, hingga pemanfaatan data historis letusan dan peta geologi sebagai rujukan penentuan status kegempaan.

Lebih lanjut, Nana mengingatkan bahwa posisi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) serta titik temui tiga lempeng tektonik utama menjadikan wilayah Nusantara memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi.
 

"Konsekuensinya memang kita rawan gempa dan erupsi, tetapi di sisi lain kondisi ini juga memberikan potensi energi panas bumi dan sumber daya mineral," tuturnya.

Di akhir keterangannya, masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada informasi dan arahan resmi yang dirilis otoritas berwenang, serta tidak tergesa-gesa menyimpulkan keterkaitan antarerupsi tanpa dasar data ilmiah yang valid.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close