Satu Pohon, Satu Harapan: Jejak United Tractors untuk Kehidupan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Agu 2026, 08:23
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
United Tractors United Tractors (Dok. United Tractors)

Ntvnews.id, Jakarta - Jejak United Tractors dalam membangun industri berkelanjutan tidak berhenti pada efisiensi alat berat dan pengurangan emisi. Di lereng Gunung Arjuno, keberlanjutan diterjemahkan menjadi pohon yang ditanam, sampah yang diolah, usaha warga yang tumbuh, hingga masyarakat yang dipersiapkan menghadapi bencana.

Di lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur, keberlanjutan tidak selalu hadir dalam bentuk istilah yang terdengar besar. Ia bisa berwujud tangan warga yang menanam pohon, sampah rumah tangga yang dipilah, petani yang merawat alpukat, atau anak-anak yang belajar di sekolah dengan fasilitas yang lebih baik.

Di empat desa, Sumbergondo, Tulungrejo, Giripurno, dan Tawangargo, perubahan itu berjalan perlahan. Sejak 2022, PT United Tractors Tbk (UT) bersama Perum Perhutani KPH Malang mengembangkan Program Desa UniTy di kawasan seluas 567 hektare. Sebanyak 1.100 pohon telah ditanam hingga 2025, dengan jenis tanaman produktif seperti alpukat, sirsak, nangka, durian, sukun, dan trembesi.

Baca Juga: Dari Belajar - Menjadi Dampak, United Tractors Hadirkan UNTUK Indonesia

Pohon-pohon itu bukan sekadar angka dalam laporan keberlanjutan. Bagi masyarakat, tanaman produktif juga berarti kemungkinan sumber penghasilan baru di masa depan.

Di sinilah wajah industri berkelanjutan mulai terlihat lebih manusiawi: alam dijaga, tetapi masyarakat juga diajak memperoleh manfaat dari proses menjaganya.

Menanam pohon, menanam penghidupan

Program Desa UniTy dirancang dengan pendekatan yang tidak memisahkan persoalan lingkungan dan ekonomi. Masyarakat dilibatkan dalam penanaman dan perawatan pohon, sekaligus mendapatkan pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan edukasi lingkungan.

Di Sumbergondo, misalnya, pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan desa. Sampah rumah tangga dipilah, sementara sampah organik diolah menjadi kompos. Model tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Cerita yang sama terlihat pada pengembangan usaha kopi dan pertanian alpukat. Pendampingan terhadap pelaku usaha lokal diarahkan agar potensi yang sudah ada di desa tidak berhenti sebagai produk mentah, tetapi berkembang menjadi sumber nilai ekonomi yang lebih besar.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan strategi keberlanjutan UT yang menempatkan Portfolio, People, dan Public Contribution sebagai Triple-P Roadmap. Strategi tersebut diarahkan untuk mempercepat dekarbonisasi sekaligus memperkuat diversifikasi bisnis non-batu bara.

Artinya, keberlanjutan bagi UT tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana perusahaan mengurangi dampak operasi. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang tersisa bagi manusia dan lingkungan setelah kegiatan ekonomi berlangsung?

Angka-angka yang bercerita

United Tractors Membukukan Laba Bersih Sebesar Rp15,6 Triliun Sampai Triwulan Ketiga Tahun 2024 <b>(Istimewa)</b> United Tractors Membukukan Laba Bersih Sebesar Rp15,6 Triliun Sampai Triwulan Ketiga Tahun 2024 (Istimewa)

Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam data.

Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, UT mencatat investasi sosial melalui biaya CSR sebesar Rp955,2 miliar. Nilai tersebut menjadi bagian dari total nilai ekonomi yang didistribusikan perusahaan sebesar Rp113,35 triliun.

Pada sisi sosial, pilar pendidikan dan tanggap darurat bencana mencatat 61.873 penerima manfaat sepanjang 2025. Program pendidikan mencakup pelatihan guru, pengembangan kurikulum, pembinaan siswa, beasiswa, serta pengembangan fasilitas pendidikan.

Sementara di bidang lingkungan, Desa UniTy bukan satu-satunya cerita.

UT mencatat target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030 dengan 2019 sebagai tahun dasar. Strateginya mencakup peningkatan efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, dan diversifikasi pendapatan dari lini bisnis non-batu bara. Pada 2025, kinerja diversifikasi pendapatan dari lini bisnis non-batu bara tercatat Rp61,2 triliun, sedangkan pencapaian penurunan emisi tercatat 12,03 persen.

Bahkan produk yang selama ini identik dengan industri alat berat mulai diarahkan menuju efisiensi. Salah satu ekskavator kelas 95 ton generasi terbaru yang dicatat dalam laporan perusahaan memiliki konfigurasi yang memungkinkan peningkatan efisiensi bahan bakar hingga 54 persen dibandingkan model sebelumnya.

Di atas kertas, angka-angka tersebut berbicara tentang efisiensi, emisi, investasi dan target. Namun jika ditarik lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari, maknanya jauh lebih sederhana: menggunakan energi lebih sedikit, menghasilkan limbah lebih sedikit, menjaga hutan tetap hidup, dan memastikan masyarakat di sekitar kegiatan usaha memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Bukan hanya tentang lingkungan

Bagi Dianwahyu Sri Purnomo, Head of Corporate Communications and Sustainability Division UT, pencapaian keberlanjutan tidak cukup diukur dari kepatuhan perusahaan terhadap aturan.

“Pencapaian PROPER Peringkat Hijau ini mencerminkan upaya kami dalam melampaui standar kepatuhan melalui penerapan sistem manajemen lingkungan yang terintegrasi. Kami meyakini bahwa hal tersebut tidak hanya mendukung keberlanjutan operasional perusahaan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Dianwahyu.

Pernyataan itu menemukan relevansinya dalam pencapaian UT pada PROPER periode 2024–2025. UT bersama PT Asmin Bara Bronang, PT Bhumi Jati Power, dan PT Suprabari Mapanindo Mineral meraih peringkat Hijau. Lima entitas lainnya memperoleh peringkat Biru.

Peringkat Hijau menunjukkan perusahaan telah melampaui standar kepatuhan dan menjalankan pengelolaan lingkungan secara lebih sistematis. Bagi UT, pencapaian itu berjalan beriringan dengan berbagai inisiatif pengelolaan energi, air, limbah, keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, ESG tidak ditempatkan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri. Ia masuk ke dalam cara perusahaan menjalankan bisnis.

Belajar menghadapi hari yang tak terduga

United Tractors bukukan laba bersih Rp9,5 triliun di semster 1 2024 United Tractors bukukan laba bersih Rp9,5 triliun di semster 1 2024

Keberlanjutan juga berarti mempersiapkan masyarakat menghadapi sesuatu yang tidak selalu dapat diprediksi.

Pada 2025, UT menjalankan Hari Kesiapsiagaan Bencana melalui simulasi secara serentak di sekolah dan komunitas binaan. Kegiatan tersebut melibatkan 6.620 sekolah dan tercatat diikuti 1.427.294 peserta, sekaligus memperoleh Rekor MURI untuk jumlah instansi dan peserta terbanyak.

Program Sobat Tangguh juga memberikan pelatihan dan simulasi agar siswa, guru, dan masyarakat memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Program tersebut dijalankan bersama sekolah, BPBD, PMI, serta dinas pemadam kebakaran setempat.

Pesannya sederhana: masyarakat tidak cukup hanya dibantu ketika bencana datang. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri.

Gagasan itu juga tercermin dalam program Desa UniTy. Ketika hutan dipulihkan, sampah dikelola, usaha lokal diperkuat, dan masyarakat dilatih menghadapi bencana, yang dibangun sebenarnya bukan hanya sebuah program CSR. Yang sedang dibangun adalah daya tahan.

Industri yang meninggalkan jejak baik

Perjalanan menuju industri berkelanjutan tentu belum selesai. Bahkan target penurunan emisi 30 persen pada 2030 menunjukkan masih panjang jalan yang harus ditempuh.

Namun, arah perjalanan mulai terlihat.

Di satu sisi, UT terus mendorong efisiensi energi, energi terbarukan, inovasi produk, pengurangan emisi, dan diversifikasi bisnis. Di sisi lain, perusahaan memperkuat pendidikan, keselamatan, kesiapsiagaan bencana, pemberdayaan ekonomi, serta konservasi lingkungan. Strategi keberlanjutan itu diterapkan di tengah bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi yang memiliki tantangan lingkungan dan sosial yang besar.

Pada akhirnya, ukuran sebuah industri berkelanjutan mungkin bukan hanya seberapa besar ia mampu menghasilkan keuntungan.

Baca Juga: United Tractors Bagikan Dividen Rp5,92 Triliun, Ini Jadwal dan Rinciannya

Ukuran lainnya adalah apakah hutan yang berada di sekitarnya masih bisa tumbuh. Apakah masyarakat memiliki penghasilan setelah program selesai. Apakah anak-anak memiliki kesempatan belajar lebih baik. Apakah sebuah desa lebih siap ketika bencana datang.

Di lereng Arjuno, jawaban itu sedang ditanam satu pohon, satu usaha, satu keluarga, dan satu generasi pada satu waktu.

Sebab industri yang benar-benar berkelanjutan bukan industri yang tidak meninggalkan jejak.

Ia adalah industri yang meninggalkan jejak yang layak diwariskan.

HIGHLIGHT

x|close