AS Mulai "Economic D-Day" untuk Tingkatkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 16:20
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara di ruang konferensi pers Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, 15 April 2026. Arsip - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent berbicara di ruang konferensi pers Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, 15 April 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan AS telah memasuki tahap operasi ekonomi yang disebutnya sebagai "Economic D-Day" terhadap Iran. Langkah itu dilakukan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengklaim telah melumpuhkan kemampuan militer dan nuklir Teheran.

"Presiden (Donald) Trump telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100 persen pabrik-pabrik militernya, dan mengubur program nuklirnya," kata Bessent dalam unggahan di platform X pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Menurut Bessent, AS kini memasuki tahap akhir operasi tersebut. Ia menyebut langkah ekonomi terhadap Iran akan dimulai ketika fajar tiba sesuai waktu setempat.

"Saat fajar menyingsing, Economic D-Day dimulai, yakni serangan finansial terbesar yang pernah dilancarkan terhadap musuh," tegasnya.

Baca JugaIran Sebut Economic D-Day Trump Pengalihan Isu Krisis AS

Pemerintah AS, kata Bessent, akan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memperketat isolasi ekonomi terhadap Iran sekaligus memutus berbagai sumber dukungan bagi pemerintah negara tersebut.

"Presiden (Trump) telah menciptakan kondisi untuk memanfaatkan setiap lembaga, setiap kewenangan, dan tindakan yang banyak orang anggap tidak akan pernah kami ambil. Tujuan kami adalah memutus setiap sumber daya ekonomi yang menopang rezim tirani tersebut hingga Iran berdiri sendiri," kata Bessent.

Ia juga mengingatkan pemerintah maupun pihak lain agar tidak menganggap AS akan menahan diri untuk menjatuhkan sanksi terhadap pihak yang menentang kebijakan Washington mengenai Iran.

"Iran telah bertahan dengan menyamarkan pemerasan sebagai jaminan keamanan. Mereka memperoleh kekuatan dari perhitungan yang menganggap pembalasan Iran pasti terjadi, sementara tindakan penegakan kebijakan AS dianggap dapat dinegosiasikan," katanya.

Baca JugaPolisi soal Rekening Donasi Rp80,9 Juta: Bukan Pemblokiran Tapi Penundaan Transaksi

Bessent menyatakan pendekatan tersebut telah berakhir di bawah kepemimpinan Trump.

"Dan mereka yang khawatir akan bahaya menentang Iran, sebaiknya tidak meremehkan konsekuensi dengan menantang AS," ujarnya.

Meski demikian, Bessent belum menjelaskan secara rinci bentuk kebijakan ekonomi yang akan diterapkan maupun lembaga mana saja yang akan terlibat dalam operasi tersebut.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close