Jelang Muktamar ke-35, PBNU Ajak Nahdliyin Jaga Persatuan dan Adab

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 16:18
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma’shum Faqih. Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma’shum Faqih. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'shum Faqih mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin untuk menjaga persatuan dan ketenangan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Ia juga menekankan pentingnya menjunjung adab serta akhlakul karimah.

Gus Ma'shum mengatakan Muktamar NU seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan dan konsolidasi jam'iyah. Menurutnya, forum tersebut tidak semestinya diwarnai upaya saling menjatuhkan melalui opini, fitnah, maupun narasi yang memicu keresahan di kalangan warga NU.

"Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan," katanya di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.

Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, itu mengingatkan bahwa NU merupakan jam'iyah diniyah ijtima'iyah yang didirikan para ulama dan kiai atas dasar khidmah. Karena itu, kegiatan ber-NU tidak seharusnya berorientasi pada perebutan kekuasaan, jabatan, atau kepentingan politik.

Baca JugaKetum PBNU Pastikan Muktamar NU Digelar 27-31 Agustus 2026

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam bersilaturrahmi dengan pengurus PWNU Aceh dan Cabang se Aceh di sela-sela kegiatan Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh, di Banda Aceh, Minggu. <b>(Antara)</b> Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam bersilaturrahmi dengan pengurus PWNU Aceh dan Cabang se Aceh di sela-sela kegiatan Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh, di Banda Aceh, Minggu. (Antara)

"Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan," ujarnya.

Menurut Gus Ma'shum, perbedaan gagasan dan pandangan menjelang Muktamar merupakan dinamika yang wajar bagi organisasi sebesar NU. Namun, seluruh perbedaan tersebut perlu diselesaikan melalui musyawarah dengan tetap mengedepankan tradisi pesantren dan sikap saling menghormati.

Ia juga meminta seluruh pihak tidak menggunakan media sosial untuk menyerang kehormatan pribadi, menyebarkan tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, atau membangun persepsi negatif terhadap sesama kader maupun pengurus NU.

"Silakan berbeda pendapat. Silakan mempunyai pilihan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab. Jangan karena Muktamar, sesama warga NU kemudian saling mencaci, memfitnah dan menjatuhkan kehormatan satu sama lain," ucap Gus Ma'shum.

Baca JugaSoal Pemimpin Baru PBNU, Gus Ipul: Semua Wacana Baik untuk Didiskusikan

Ia menegaskan jabatan di lingkungan NU merupakan amanah dan sarana pengabdian, bukan hadiah atau tujuan akhir perjuangan. Siapa pun yang menerima amanah nantinya memiliki tanggung jawab besar untuk melayani jam'iyah, jamaah, pesantren, dan umat.

Gus Ma'shum turut mengingatkan bahwa Muktamar akan berakhir dan kepengurusan akan berganti. Namun, persaudaraan antarsesama warga NU harus tetap terpelihara.

Ia berharap seluruh pihak dapat melihat dinamika dan kontestasi menjelang Muktamar dengan pandangan yang lebih jauh. Kebesaran NU selama lebih dari satu abad, menurutnya, tidak lepas dari keteladanan para pendiri dan sesepuh yang mampu menyikapi perbedaan dengan ilmu, kebijaksanaan, kesabaran, dan akhlak.

Karena itu, Gus Ma'shum mengajak seluruh jajaran NU menjaga suasana tetap teduh. Ia mengingatkan dinamika internal organisasi juga menjadi perhatian masyarakat sehingga setiap kader memiliki tanggung jawab menjaga marwah NU yang diwariskan para ulama.

"“Mari kita jaga persatuan. Tetap beradab dan berakhlakul karimah. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan saudara sendiri," tutur Ma'shum Faqih.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close