Trump Klaim Kim Jong Un Sudah Merespons Ajakan Dialog

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Agu 2026, 06:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kim Jong Un dan Donald Trump Kim Jong Un dan Donald Trump (ANTARA)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah memberikan respons terhadap pendekatan terbaru yang disampaikannya.

Dilansir dari Reuters, Rabu, 19 Agustus 2026, pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin, 17 Agustus 2026, sehari setelah AS dan Korea Selatan memutuskan mengurangi skala latihan militer bersama. Trump juga kembali menyanjung hubungan baiknya dengan Kim.

Menurut Trump, komunikasi dengan pemimpin Korea Utara itu berlangsung "sangat positif". Ia bahkan mengklaim kedekatannya dengan Kim telah membuat kondisi keamanan menjadi "jauh lebih aman".

Saat ditanya mengenai alasan Kim belum memberikan respons terhadap ajakan berdialog sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih, Trump menjawab, "Bagaimana Anda tahu dia belum menanggapi?"

Ketika kembali ditanya apakah Kim benar-benar telah merespons, Trump menegaskan, "Ya, dia sudah menanggapi." Meski demikian, Trump tidak mengungkapkan bentuk maupun isi respons tersebut.

Trump dan Kim sebelumnya telah mengadakan tiga pertemuan ketika Trump menjalani periode pertama sebagai presiden AS. Namun, pertemuan kembali belum terjadi sejak Trump memulai masa jabatan keduanya.

Trump kemudian kembali memuji pemimpin Korea Utara tersebut. "Anda lihat, sebenarnya saya membuatnya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat," kata Trump.

"Saya memahaminya. Dia memahami saya," lanjutnya.

Trump Sebut Korea Selatan "Aneh"

Di sisi lain, Trump melontarkan kritik terhadap Korea Selatan karena dianggap tidak memberikan bantuan kepada AS dalam menghadapi Iran. Ia menyebut operasi tersebut bertujuan mencegah Teheran mendapatkan senjata nuklir.

Trump juga menyebut Korea Selatan "aneh" lantaran dinilai enggan membantu operasi militer AS-Israel terhadap Iran.

Pernyataan itu muncul setelah Trump sebelumnya mengkritik Seoul melalui platform Truth pada Minggu malam. Ia kemudian mengatakan telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan yang dianggapnya "tidak pantas dan bermusuhan".

Trump menghubungkan kebijakan tersebut dengan keputusan Seoul yang tidak bersedia mendukung perang AS-Israel terhadap Iran.

"Tunggu sebentar. Kita punya 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak mau membantu kita dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh," ujar Trump di Ruang Oval.

Trump juga mempertanyakan komitmen Korea Selatan serta sejumlah negara NATO yang tidak ikut berkontribusi dalam konflik AS-Israel melawan Iran.

"Kita tidak bisa berkeliling dan melindungi semua negara ini, terutama ketika mereka tidak ada di sana untuk membantu kita," kata Trump.

Meski demikian, Korea Selatan memastikan latihan militer bersama AS tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Seoul juga menegaskan kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyerang Korea Utara ataupun memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan pada Selasa menyatakan latihan tersebut tidak menunjukkan "niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea," seperti diberitakan Channel News Asia.

Baca Juga: Kim Jong Un Kirim Surat ke Putin, Apa Isinya?

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menegaskan bahwa "tujuan mendasar mereka bukanlah untuk memperlakukan entitas tertentu sebagai musuh, tetapi untuk menjaga keamanan dan kedamaian kehidupan sehari-hari masyarakat".

Sementara itu, Korea Utara belum menyampaikan pernyataan terbuka mengenai perkembangan tersebut. Pyongyang sendiri selama ini berulang kali mengecam latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan.

Kebijakan Trump untuk mengurangi latihan bersama tersebut turut menuai kritik dari anggota Partai Demokrat di Senat AS. Senator Jack Reed, anggota senior Komite Angkatan Bersenjata Senat, memperingatkan keputusan tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi negara-negara pesaing Washington.

"Ini adalah keputusan bodoh dan sembarangan lainnya dari Presiden Trump dan pemerintahannya yang kacau," kata Reed.

Ia juga menilai China dan Rusia "sedang mengamati betapa mudahnya presiden ini meninggalkan sekutu Amerika."

Kekhawatiran Keamanan Asia Meningkat

Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Rapat Pleno ke-10 Komite Sentral ke-8 Partai Pekerja Korea di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat resmi Korea Utara, 2 Juli 2024. /ANTARA/KCN <b>(Antara)</b> Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Rapat Pleno ke-10 Komite Sentral ke-8 Partai Pekerja Korea di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat resmi Korea Utara, 2 Juli 2024. /ANTARA/KCN (Antara)

Kekhawatiran mengenai keamanan kawasan Asia kembali mencuat setelah AS dan Korea Selatan melaksanakan latihan militer Ulchi Freedom Shield. Latihan yang berlangsung selama 11 hari tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapan kedua negara dalam menghadapi kemungkinan konflik dengan Korea Utara.

Juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, Kolonel Ryan Donald, mengatakan latihan tersebut mencakup simulasi pertempuran menghadapi pasukan Korea Utara, seperti dikutip Channel News Asia.

Kemampuan militer Pyongyang dinilai semakin meningkat setelah pasukannya dikerahkan ke Rusia untuk membantu perang di Ukraina.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan menyampaikan kepada AFP bahwa Seoul tetap menjalin koordinasi erat dengan Washington selama pelaksanaan latihan.

Namun, latihan tersebut mendapat kecaman dari Korea Utara. Pyongyang menilai Ulchi Freedom Shield sebagai latihan awal untuk mempersiapkan invasi.

Korea Utara juga telah melakukan uji coba rudal balistik yang melintasi wilayah Laut Jepang. Pada Jumat, Pyongyang memperingatkan bahwa pihaknya dapat merespons latihan militer tersebut dengan "tingkat pencegahan baru".

Baca Juga: Hakim Tolak Pengalihan Penahanan Yaqut dari Rutan ke Tahanan Rumah

Latihan gabungan AS-Korea Selatan sebelumnya juga pernah menjadi perhatian Trump. Saat menjalani masa jabatan pertamanya, Trump menyatakan setelah bertemu Kim Jong Un di Singapura pada Juni 2018 bahwa Washington akan menghentikan latihan militer yang disebutnya "provokatif".

Saat ini, AS menempatkan sekitar 28.500 personel militernya di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut. Kehadiran pasukan Amerika merupakan bagian dari warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir melalui gencatan senjata, bukan kesepakatan perdamaian.

Kritik Trump terhadap hubungan pertahanan AS dan Korea Selatan kembali menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Asia Timur.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah AS mengumumkan pengurangan skala latihan militer. Di saat yang sama, USS George Washington, satu-satunya kapal induk AS yang kini beroperasi di kawasan Pasifik, dipindahkan menuju Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.

HIGHLIGHT

x|close