Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Agu 2026, 05:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di wilayah utara Oman Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di wilayah utara Oman (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya kini memiliki kendali total atas Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan ketika serangan terhadap kapal dan meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut masih berlangsung.

Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan meminta Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan sebelum jalur pelayaran itu kembali dibuka.

"Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Kami menguasainya; tidak ada pihak lain, hanya kami," kata Trump, dikutip dari DW, Kamis, 13 Agustus 2026.

Trump juga menyatakan dirinya tidak mempercayai pemerintah Iran. Menurutnya, Teheran selama ini kerap memberikan informasi yang tidak sesuai kepadanya dan tidak memiliki kendali atas Selat Hormuz.

"Saya adalah orang terakhir yang mempercayai Iran. Mereka terus-menerus berbohong kepada saya," ujarnya.

Namun, laporan Reuters menyebut Iran tetap menutup Selat Hormuz dan hanya akan membuka kembali jalur tersebut apabila Washington menyetujui sejumlah persyaratan. Teheran di antaranya meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mencabut sanksi yang diberlakukan terhadap negara tersebut.

Baca Juga: Ini Syarat-syarat Iran ke AS untuk Buka Kembali Selat Hormuz

Ketegangan tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Aktivitas serangan juga dilaporkan meningkat di jalur pelayaran strategis lainnya di kawasan.

Otoritas Yaman menyatakan enam orang tewas pada Selasa setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang sebuah kapal di Selat Bab el-Mandeb.

Penjaga pantai Yaman menyebut korban terdiri dari empat awak kapal dan dua anggota National Resistance Forces yang bersekutu dengan pemerintah. Kementerian Transportasi Yaman mengatakan Houthi meluncurkan tiga rudal balistik ke arah kapal komersial tersebut.

Empat awak kapal dilaporkan tewas dalam serangan itu. Reuters menyebut kejadian tersebut sebagai kematian pertama yang diketahui akibat serangan Houthi terhadap kapal-kapal pelayaran sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Juru bicara sekaligus kepala perunding Houthi, Mohammed Abdul-Salam, menuduh Arab Saudi menggunakan gencatan senjata untuk memperketat blokade udara dan laut yang telah diberlakukan sejak 2015.

Ia mengatakan kelompoknya tetap terbuka terhadap perundingan, tetapi menegaskan "setiap penyelesaian harus mencakup pencabutan blokade."

Ilustrasi - Selat Hormuz <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Selat Hormuz (Antara)

Sementara itu, di kawasan Teluk Oman, militer AS mengklaim pasukannya menembaki kapal berbendera Panama yang berusaha melewati blokade terhadap pelabuhan Iran.

Komando Pusat AS mengatakan kapal M/V Vela Nova tidak mengindahkan perintah untuk berhenti. Sebuah helikopter militer AS kemudian meluncurkan rudal ke bagian ruang mesin kapal hingga membuat kapal tersebut tidak dapat beroperasi.

Menurut Komando Pusat AS, pasukannya telah mengalihkan 55 kapal komersial yang mencoba melewati blokade. Dari jumlah tersebut, tiga kapal dilumpuhkan karena tidak mematuhi perintah, sementara dua kapal lainnya dinaiki oleh pasukan AS.

Klaim Trump mengenai kendali AS atas Selat Hormuz muncul ketika aktivitas pelayaran komersial di kawasan tersebut masih berada pada level rendah.

UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan lalu lintas komersial masih mengalami penurunan. Serangan, percobaan serangan, serta aktivitas "gangguan" yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran juga masih berlangsung.

"Aksi-aksi ini terus menunjukkan niat Iran untuk mempertahankan kehadiran di sepanjang jalur transit utama serta mempertahankan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas," kata UKMTO.

Baca Juga: Iran Siapkan RUU Pembatasan Kapal AS dan Israel di Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Menurut dpa, sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia sebelumnya dikirim melalui jalur tersebut. Selat ini juga menjadi rute penting untuk distribusi gas alam cair dan pupuk.

Sejak perang pecah, serangan dan ancaman terhadap kapal membuat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan gas di pasar global.

Pasar kembali merespons perkembangan terbaru pada Rabu, 12 Agustus 2026. Harga minyak mentah AS naik 0,61 persen menjadi US$83,71 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent meningkat 0,62 persen menjadi US$89,46 per barel dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan selama enam hari berturut-turut.

"Kurangnya berita atau kemajuan substansial dalam pembicaraan, dengan Iran mempertegas komitmennya untuk mengendalikan Selat Hormuz, membuat risiko harga minyak tetap condong ke atas," kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

Pakistan Dorong Negosiasi AS-Iran

Ilustrasi negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat dengan mediasi Pakistan. /ANTARA/Anadolu/py. <b>(Antara)</b> Ilustrasi negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat dengan mediasi Pakistan. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Di tengah kebuntuan antara Washington dan Teheran, Pakistan kembali berusaha menjadi mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan perjalanan ke Teheran pada Selasa untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat lainnya.

Menurut dua pejabat yang dikutip Reuters, kunjungan tersebut bertujuan mendorong Iran kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan damai sementara yang sebelumnya dimediasi Pakistan pada Juni.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga terus menjadi perhatian pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Reuters melaporkan harga minyak dan emas kembali meningkat pada Rabu seiring memburuknya ketegangan geopolitik.

Sementara itu, konflik Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Meski Trump berulang kali menyatakan kesepakatan damai akan segera tercapai, perbedaan sikap mengenai blokade pelabuhan Iran dan penguasaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu persoalan utama yang menghambat upaya mengakhiri perang.

HIGHLIGHT

x|close