Ntvnews.id, Taheran - Iran dan Oman menyebut pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz berlangsung positif dan telah memasuki tahap lanjutan. Perkembangan ini dinilai membuka peluang bagi aktivitas pengiriman barang melalui jalur strategis tersebut untuk kembali berjalan normal.
Dalam beberapa hari terakhir, pembahasan antara kedua negara berfokus pada opsi pembentukan jalur baru di Selat Hormuz. Pengelolaan rute tersebut nantinya akan menjadi tanggung jawab bersama Iran dan Oman.
Namun, Teheran secara terbuka menyampaikan sejumlah persyaratan yang menurut mereka harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) sebelum Selat Hormuz dapat kembali dibuka.
Sejumlah tuntutan tersebut bahkan dinilai melampaui beberapa poin yang tercantum dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran yang disepakati pada 17 Juni lalu.
Baca Juga: AS Pastikan Kapal Boleh Melintas di Jalur Sementara Hormuz Tanpa Biaya
Lantas, apa saja tuntutan Iran dan apakah Washington mampu memenuhinya?
Dalam pernyataan yang dimuat media pemerintah Iran, IRIB, Teheran meminta AS untuk "memperbaiki" sikapnya serta memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Bagher Zolghadr, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang kini menjadi penasihat Pemimpin Tertinggi Iran.
Berikut enam tuntutan Iran:
1. Menghentikan ancaman dan penghinaan terhadap Iran
Iran meminta AS berhenti mengeluarkan ancaman serta memberikan jaminan bahwa tindakan serupa tidak akan kembali dilakukan. Tuntutan ini berkaitan dengan aspek politik sekaligus keamanan.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata secara implisit mengharuskan kedua pihak menahan diri, permintaan jaminan agar tidak ada ancaman di masa depan dinilai lebih luas dibandingkan ketentuan yang tercantum dalam kesepakatan Juni.
2. Mengakhiri agresi terhadap Iran dan sekutunya
Teheran menuntut Washington menghentikan seluruh operasi militer, bukan hanya terhadap Iran, tetapi juga terhadap sekutu dan kelompok yang menjadi mitranya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak.
MoU Iran-AS pada Juni lalu sebelumnya telah memuat pembahasan mengenai konflik di berbagai front dengan menyebut "Semua front termasuk Lebanon".
Namun, tuntutan terbaru Iran secara lebih spesifik mencakup sejumlah negara lain sehingga secara efektif mengarah pada permintaan jaminan keamanan dalam cakupan regional yang lebih luas.
3. Mengakhiri blokade laut dan menarik pasukan AS
Iran juga meminta AS mencabut blokade laut serta menarik kekuatan angkatan laut dan udara dari wilayah sekitar Iran.
Dalam kesepakatan Juni, AS disebut memiliki kewajiban mengakhiri blokade dalam kurun waktu 30 hari. Meski demikian, tuntutan ini tidak secara langsung berkaitan dengan keputusan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
4. Membayar kompensasi atas kerusakan akibat perang
Foto arsip ini menunjukkan Selat Hormuz, Iran, Rabu (19/2/2025 (Antara)
Iran menuntut pembayaran ganti rugi penuh atas kerusakan yang ditimbulkan akibat dua perang agresi.
Tuntutan tersebut merujuk pada konflik selama 12 hari pada 2025 dan perang terbaru antara kedua negara.
Pembahasan mengenai mekanisme kompensasi sebelumnya diperkirakan menjadi bagian dari negosiasi untuk mencapai kesepakatan final setelah perjanjian Juni. Namun kini Teheran secara terang-terangan menghubungkan pembayaran kompensasi tersebut dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
5. Mencabut sanksi terhadap Iran
Iran juga meminta AS menghapus sanksi yang disebut "kejam dan ilegal" terhadap masyarakat Iran.
Pencabutan sanksi sebenarnya telah diperkirakan menjadi salah satu materi pembicaraan dalam proses menuju penyelesaian akhir konflik. Karena itu, tuntutan ini bukan sepenuhnya hal baru.
Hal yang berbeda adalah Iran kini secara tegas mengaitkan pencabutan sanksi dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
6. Membebaskan aset Iran yang dibekukan
Teheran meminta seluruh aset milik rakyat Iran yang dibekukan dan disebut dicuri agar dibebaskan tanpa syarat.
Tuntutan mengenai pelepasan aset Iran di luar negeri yang diblokir AS juga telah lama disampaikan oleh Teheran. Dengan demikian, poin ini bukan tuntutan baru dalam hubungan kedua negara.
Keenam persyaratan tersebut memperluas sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.
Analis Timur Tengah BBC, Sebastian Usher, menilai langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan sikap Iran yang semakin keras.
"Ini adalah kondisi yang telah ada sebagai bagian dari kerangka perjanjian MoU, tapi waktu dan mekanisme pelaksanaannya tampak sangat berbeda," ujarnya.
Menurut Usher, Iran kemungkinan merasa memiliki posisi tawar lebih kuat karena Selat Hormuz "pada dasarnya masih tertutup".
Baca Juga: Dampak Krisis Selat Hormuz: Inggris Diproyeksikan Alami Resesi pada 2027
Namun, Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute, lembaga kajian kebijakan luar negeri AS, menilai Iran menyadari bahwa sejumlah tuntutan tersebut "dilebih-lebihkan".
Parsi memperkirakan Teheran pada akhirnya akan menarik kembali sebagian tuntutannya.
"Apa yang telah dikemukakan di tingkat publik belum tentu tercermin di meja perundingan," katanya.
Parsi juga menilai pengajuan berbagai persyaratan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari strategi negosiasi Iran.
"Bisa jadi mereka hanya mencoba memperpanjang proses ini," ujarnya.
Menurut Parsi, terdapat pandangan di kalangan kelompok garis keras Iran bahwa pemerintah terlalu cepat menyetujui kesepakatan dengan AS pada Juni lalu.
Kesepakatan tersebut hanya bertahan selama beberapa hari sebelum konflik kembali pecah dan serangan balasan terjadi tidak lama setelah perjanjian ditandatangani.
Parsi menyebut sebagian pihak di Iran meyakini bahwa memperpanjang negosiasi dapat meningkatkan harga minyak dan memperburuk tekanan terhadap perekonomian global. Kondisi tersebut diharapkan membuat Presiden AS Donald Trump tidak terburu-buru memerintahkan serangan terhadap Iran.
Parsi menilai Iran tidak ingin kembali melakukan 'kesalahan' serupa.
Meski demikian, ia tetap memperkirakan kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang.
Jika prediksi tersebut terwujud, para awak kapal yang masih menunggu di sekitar Selat Hormuz maupun pihak yang memantau pergerakan harga minyak dunia tentu berharap proses negosiasi berjalan sesuai perkiraan.
Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang sedang berlabuh di Teluk Oman, di lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang krusial (Antara)