Ntvnews.id, Jakarta -Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa pemerintahannya lebih memilih memaksimalkan sanksi dan tekanan ekonomi terhadap Iran dibanding harus terburu-buru melancarkan aksi militer baru.
Sikap tersebut disampaikan Trump dalam sesi wawancara khusus bersama Axios pada Minggu (9/8). Ia menilai strategi penekanan secara bertahap terbukti efektif memperlemah posisi Teheran.
“Kami melakukannya dengan pendekatan yang tidak terlalu mencolok,” kata Trump kepada Axios.
Trump mengungkapkan bahwa saat ini Washington memilih mengambil langkah setengah bernegosiasi sembari mengamati penurunan kondisi perekonomian Iran dari dekat.
Baca juga: Trump Yakin Perang AS-Iran Segera Berakhir
“Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang,” ujarnya.
Menurut analisis Trump, keuangan Iran saat ini berada di titik kritis. Ia mengklaim krisis finansial tersebut bahkan membuat pemerintah Iran kewalahan membayar gaji pasukan militernya.
Trump menambahkan, blokade maritim yang diterapkan militer AS sukses melipatgandakan tekanan ekonomi terhadap pemerintahan Iran. Di sisi lain, ia mengklaim dampak negatif konflik bagi masyarakat Amerika Serikat mulai mereda seiring melandainya harga minyak dunia yang kini berada di kisaran sedikit di atas 75 dolar AS per barel.
Mengenai arah eskalasi dengan negara pimpinan Mojtaba Khamenei tersebut, Trump tetap optimistis.
“Ini akan berakhir dengan baik. Selalu berakhir dengan baik. Ini seperti permainan catur,” kata Trump.
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)
Baca juga: Arab Saudi Kecam Blokade Laut Houthi, Bakal Ambil Langkah Ini
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya sempat mereda ketika Washington dan Teheran menandatangani perjanjian kerangka kerja pada 18 Juni lalu. Dokumen tersebut sedianya menjadi batu pijakan menuju perundingan damai final.
Namun, proses diplomasi kembali menemui jalan buntu akibat perbedaan pandangan krusial mengenai jaminan keamanan serta hak kebebasan navigasi kapal di Selat Hormuz.
Eskalasi perselisihan memuncak bulan lalu saat militer AS melancarkan serangan udara ke wilayah kedaulatan Iran. Pihak Teheran kemudian membalas dengan menggempur sejumlah fasilitas serta instalasi militer AS yang berlokasi di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Baca juga: AS Klaim Blokade Maritim Iran Efektif, Lalu Lintas Kapal Terhenti dalam 36 Jam
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)