Ntvnews.id, Seoul - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung kembali mengusulkan dialog dengan Korea Utara (Korut) untuk membahas upaya mengakhiri status perang di Semenanjung Korea. Ia mendorong agar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku selama ini digantikan dengan "rezim perdamaian".
Dilansir dari Reuters, Senin, 17 Agustus 2026, Lee menyampaikan ajakan tersebut dalam pidatonya pada upacara peringatan 81 tahun pembebasan Korea dari penjajahan Jepang. Hari kemerdekaan tersebut diperingati setiap 15 Agustus.
"Mari kita kesampingkan niat untuk saling mengancam dan mulailah diskusi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama ini, sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung," cetus Lee dalam pidatonya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Lee juga menyatakan dialog antara kedua negara dapat membuka peluang pembahasan mengenai isu nuklir Korea Utara.
"Melalui langkah ini, kita juga mungkin dapat membahas langkah-langkah efektif untuk menghentikan kemampuan nuklir Korea Utara," ujar Presiden Korsel tersebut.
Secara teknis, Korsel dan Korut hingga kini masih berada dalam kondisi perang. Konflik bersenjata yang berlangsung pada 1950-1953 berakhir melalui perjanjian gencatan senjata, bukan kesepakatan perdamaian permanen.
Baca Juga: Paus Leo Serukan Penghentian Kekerasan terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Lee menegaskan Seoul akan terus mengambil langkah proaktif untuk menurunkan ketegangan dengan Pyongyang. Pemerintahannya juga berencana membangun sistem pengamanan berlapis guna mencegah terjadinya eskalasi konflik di Semenanjung Korea.
Gagasan tersebut sejalan dengan komitmen Lee yang disampaikan tahun lalu untuk menghormati sistem pemerintahan Korea Utara sekaligus mendorong terciptanya koeksistensi secara damai dengan Pyongyang.
Namun, hubungan kedua Korea saat ini masih berada dalam kondisi tegang. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah meninggalkan kebijakan reunifikasi dengan Korea Selatan dan menyebut Seoul sebagai negara yang paling bermusuhan. Ia juga memerintahkan peningkatan kekuatan pertahanan di wilayah perbatasan.
Pyongyang menolak pendekatan yang ditawarkan Lee dan turut mengecam rencana Seoul untuk mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir. Korea Utara juga menentang latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan dan menyebutnya sebagai bentuk provokasi.
Dalam dua pekan terakhir, Korea Utara juga telah meluncurkan dua rudal yang kemudian terdeteksi jatuh ke wilayah perairan.
Lee Jae Myung (Antara/Anadolu)