Ntvnews.id, Washington D.C - Sebanyak tujuh prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah personel lainnya mengalami luka dalam sebuah insiden perkelahian di kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut saat ini tengah menjalankan misi panjang di kawasan Timur Tengah.
Kabar tersebut pertama kali diberitakan kantor berita Iran, Tasnim, pada Rabu, 12 Agustus 2026. Laporan itu mengutip sumber militer yang disebut mengetahui kejadian tersebut. Namun hingga kini, belum ada verifikasi independen mengenai jumlah korban maupun rangkaian kejadian dari pihak Angkatan Laut AS.
Dilansir dari Mehr News Agency, Kamis, 13 Agustus 2026, insiden bermula ketika seorang penasihat Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, datang ke kapal untuk membahas berbagai keluhan yang disampaikan para awak USS Abraham Lincoln.
Keluhan tersebut muncul setelah keluarga para personel kapal menggelar aksi protes terkait durasi penugasan USS Abraham Lincoln yang dinilai terlalu panjang.
Dalam sebuah pertemuan, penasihat tersebut disebut mendapat sorakan dari sejumlah personel. Bahkan, beberapa botol air dikabarkan dilemparkan ke arahnya ketika ia menyampaikan penjelasan.
Baca Juga: Netanyahu Tolak 15 Poin Proposal Board of Peace Bentukan Amerika, Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza
Situasi kemudian memanas dan dilaporkan berubah menjadi perkelahian antarpersonel. Insiden tersebut disebut melibatkan pisau serta sejumlah benda tajam lainnya.
Sumber yang dikutip Tasnim menyebut tujuh personel tewas dalam perkelahian tersebut, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Tasnim juga melaporkan kondisi di atas kapal masih diliputi ketegangan. Meski demikian, Angkatan Laut AS belum memberikan pernyataan resmi yang membenarkan adanya perkelahian maupun laporan mengenai jumlah korban.
Misi Panjang USS Abraham Lincoln
USS Abraham Lincoln diketahui tengah menjalankan salah satu penugasan dengan durasi terpanjang dalam sejarah modern Angkatan Laut Amerika Serikat.
Kapal induk tersebut telah berada dalam penugasan selama lebih dari delapan bulan dan menghabiskan lebih dari 200 hari secara berturut-turut di laut. Pada awal Juli, Stars and Stripes melaporkan USS Abraham Lincoln telah mencatat 207 hari berturut-turut berada di laut.
Durasi tersebut bahkan disebut melampaui rekor sebelumnya yang ditorehkan USS Dwight D. Eisenhower ketika masa pandemi Covid-19.
Kapal Induk AS (Istimewa)
Lamanya penugasan menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi fisik dan psikologis para awak. Salah satu personel USS Abraham Lincoln sebelumnya dikabarkan menyampaikan kepada keluarganya bahwa kondisi kesehatan mental dan fisiknya mulai mengkhawatirkan.
Keluarga para awak dalam beberapa pekan terakhir juga semakin sering menyuarakan keluhan mengenai situasi di atas kapal serta ketidakjelasan waktu kepulangan para personel.
Keluhan yang disampaikan mencakup berbagai persoalan, mulai dari makanan dan fasilitas sanitasi hingga sarana komunikasi. Dampak penugasan yang berkepanjangan terhadap kesehatan mental awak juga menjadi perhatian keluarga.
USS Abraham Lincoln pertama kali diberangkatkan dari San Diego pada November 2025. Kapal tersebut kemudian dialihkan menuju kawasan Timur Tengah ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat.
Dalam beberapa bulan terakhir, kapal induk tersebut terlibat dalam sejumlah operasi militer AS yang berkaitan dengan konflik Iran. Berdasarkan laporan Stars and Stripes, operasi tersebut antara lain mencakup serangan udara terhadap fasilitas militer Iran, pengamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz, serta pelaksanaan blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Hingga saat ini, laporan mengenai tujuh prajurit yang tewas dalam insiden perkelahian tersebut masih menunggu konfirmasi resmi dari Angkatan Laut Amerika Serikat.
Kapal induk milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (The Aviation Geek Club)