AS Klaim Rezim Iran dalam Kondisi Terlemah Sejak Revolusi 1979

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Agu 2026, 06:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Massa menghadiri pertemuan untuk menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran, Senin (9/3/2026). /ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. Massa menghadiri pertemuan untuk menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran, Senin (9/3/2026). /ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat menilai pemerintahan Ayatollah Iran saat ini berada dalam kondisi paling lemah sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan pemerintahan monarki. Washington menyebut kondisi tersebut merupakan dampak dari serangkaian serangan yang dilancarkan AS sejak Februari lalu.

Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee bahkan memberikan apresiasi terhadap keputusan Presiden Donald Trump untuk terus menghadapi Iran. Menurutnya, kebijakan tersebut diarahkan untuk memberikan tekanan ekonomi dan militer hingga Iran mengalami kesulitan finansial.

"Operasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar," kata Huckabee dalam wawancara dengan Newsmax, dikutip Kamisl 13 Agustus 2026.

Huckabee juga menuding Iran telah melakukan berbagai aksi yang menyebabkan banyak warga Amerika Serikat kehilangan nyawa, baik melalui tindakan langsung maupun lewat kelompok yang menjadi proksinya.

Huckabee mengklaim bahwa Iran telah "melakukan berbagai tindakan, baik secara langsung maupun melalui proksi-proksinya, yang telah menewaskan ribuan warga Amerika".

Baca Juga: Selat Itu Milik Kami: Trump Klaim AS Kuasai Hormuz dan Tuding Iran Bangkrut

Ia kemudian mempertanyakan alasan sebagian masyarakat AS tidak mendukung kebijakan Trump dalam menghadapi Iran. Menurut Huckabee, ancaman yang berasal dari Teheran tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi memiliki cakupan yang lebih luas dan berpotensi mengancam keamanan global.

Ia menyoroti dukungan Iran terhadap sejumlah kelompok bersenjata di Timur Tengah yang selama ini berseberangan dan terlibat konflik dengan Amerika Serikat.

"Saya tidak tahu mengapa banyak warga Amerika tampaknya tidak menyadari bahwa persoalan dengan Iran ini bukanlah masalah Timur Tengah. Ini adalah masalah global," tambahnya seperti dikutip Al Jazeera.

Huckabee juga menyinggung keberadaan Hizbullah, kelompok yang dikenal dekat dengan Iran, di sejumlah negara di kawasan Belahan Bumi Barat. Ia menilai kehadiran kelompok tersebut bukan untuk kepentingan ekonomi atau sosial semata, melainkan berkaitan dengan agenda yang dianggap mengancam Amerika Serikat.

Orang-orang menghadiri pertemuan untuk bersumpah setia kepada Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran <b>(Antara)</b> Orang-orang menghadiri pertemuan untuk bersumpah setia kepada Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran (Antara)

"Hizbullah (milisi pro-Iran di Lebanon) sudah berada di 12 negara di Belahan Bumi Barat. Mereka tidak berada di sana untuk membuka kedai es serut di Amerika Selatan. Mereka berada di sana karena memiliki tujuan akhir, yaitu kematian bagi Amerika," kata Huckabee kepada Newsmax.

Ia menegaskan bahwa pernyataan permusuhan terhadap Amerika Serikat yang selama ini disampaikan kelompok tersebut harus dipandang serius oleh Washington.

"Itulah yang telah mereka katakan selama 47 setengah tahun. Kita perlu menganggap mereka serius."

Pernyataan Huckabee tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Washington menilai tekanan militer dan ekonomi yang diberikan terhadap Teheran telah melemahkan posisi rezim Iran, sementara pihak Iran terus menghadapi tekanan terkait kebijakan nuklir dan jaringan kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan.

HIGHLIGHT

x|close