China Kritik Pidato PM Jepang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Agu 2026, 05:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (ANTARA/Anadolu/py) Arsip - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - China mengecam pidato Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam upacara peringatan korban perang pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Beijing meminta pemerintah Jepang melakukan refleksi mendalam terhadap sejarah perang dan menjauhkan diri dari militerisme.

Desakan tersebut disampaikan China pada Senin, 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan 81 tahun menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia II.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Juan, menilai pidato Takaichi sebagai langkah yang berpotensi "memutar balik roda sejarah". Ia pun meminta pemerintah Jepang memperhatikan aspirasi masyarakat serta pandangan komunitas internasional.

"Kami kembali mendesak mereka yang memimpin pemerintah Jepang untuk mendengarkan suara rakyatnya dan komunitas internasional, merenungkan secara mendalam kejahatan perang, memutus hubungan dengan militerisme, dan berhenti melangkah lebih jauh di jalan yang salah," kata Lin.

Takaichi diketahui baru pertama kali menghadiri upacara tahunan tersebut sejak menjabat sebagai perdana menteri pada Oktober lalu. Dalam pidatonya, ia menyampaikan komitmen Jepang untuk menjaga perdamaian.

Namun, Takaichi tidak menggunakan sejumlah istilah yang sebelumnya disampaikan pendahulunya, Shigeru Ishiba, dalam peringatan serupa pada 2025.

Baca Juga: Korut Kembali Uji Rudal Balistik, Jepang Keluarkan Peringatan Darurat

Ketika itu, Ishiba menyampaikan "penyesalan" atas perang yang dilakukan Jepang serta menyatakan "tekad kuat untuk menolak perang."

Lin mengatakan Takaichi juga tidak menyebut kata "penyesalan" dan "pelajaran yang dipetik". Menurutnya, pernyataan Takaichi terkait kejahatan perang Jepang disampaikan secara ambigu.

Beijing menilai sikap tersebut mencerminkan kecenderungan pemerintahan Takaichi untuk mengaburkan sejarah agresi Jepang serta berupaya mengubah penilaian sejarah yang telah ada.

"Hanya dengan menghadapi dan belajar dari sejarah, seseorang dapat menghindari pengulangan kesalahan masa lalu," ujar Lin.

Dalam pernyataannya, Lin turut menyoroti kunjungan sejumlah anggota kabinet dan politikus Jepang ke sebuah kuil yang oleh China dipandang sebagai simbol dukungan terhadap "perang agresi."

Salah satu pejabat yang disebut dalam kunjungan tersebut adalah Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi.

China menilai tindakan para pejabat Jepang tersebut semakin memperkuat kekhawatiran Beijing mengenai sikap Tokyo terhadap sejarah perang.

Tahun ini juga bertepatan dengan peringatan 81 tahun kemenangan China dalam Perang melawan Jepang yang kedua, yang berlangsung pada 1937 hingga 1945.

HIGHLIGHT

x|close