Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara kembali melakukan uji coba rudal balistik ke arah perairan di lepas pantai timur Semenanjung Korea pada Rabu, 12 Agustus 2026. Peluncuran tersebut memicu Kantor Perdana Menteri Jepang mengeluarkan peringatan darurat pada dini hari.
Dilansir dari AFP, Kamis, 13 Agustus 2026, Aksi militer Pyongyang itu terjadi hanya beberapa hari sebelum Korea Selatan dan Amerika Serikat menggelar latihan militer gabungan berskala besar. Latihan tersebut selama ini menjadi salah satu agenda yang kerap mendapat kecaman dari Korea Utara.
Kepala Staf Gabungan Militer Korea Selatan (JCS) menyebut rudal diluncurkan dari sekitar wilayah Wonsan, Korea Utara, pada pukul 06.00 waktu setempat. Peluncuran itu terjadi enam hari setelah Pyongyang kembali menembakkan rudal balistik dari lokasi yang sama.
Uji coba tersebut berlangsung menjelang latihan gabungan Korea Selatan dan AS bertajuk Ulchi Freedom Shield yang dijadwalkan berlangsung pada 17-27 Agustus. Latihan itu digelar untuk meningkatkan kesiapan menghadapi perkembangan kemampuan nuklir serta persenjataan Korea Utara.
Hingga kini, Pyongyang belum memberikan keterangan resmi mengenai peluncuran rudal dari Wonsan tersebut. Namun, pada Rabu sore, Korea Utara melontarkan kritik terhadap ambisi nuklir Korea Selatan dan Jepang.
Peluncuran terbaru ini diperkirakan menjadi uji coba rudal balistik ke-11 yang dilakukan Korea Utara sepanjang 2026.
Baca Juga: Trump Cekcok dengan Menhan AS Gegara Stok Rudal Menipis
Otoritas pertahanan Korea Selatan dan Jepang memperkirakan rudal tersebut melesat sejauh sekitar 700 kilometer. Meski demikian, JCS Korea Selatan belum menggolongkannya sebagai rudal balistik jarak pendek dan menyatakan analisis lebih lanjut masih dilakukan.
Secara umum, rudal balistik yang memiliki jangkauan sekitar 300 hingga 1.000 kilometer masuk dalam kategori rudal jarak pendek. Namun, rudal yang digunakan dalam peluncuran terbaru ini belum dapat diklasifikasikan oleh Korea Selatan maupun Jepang.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai tipe rudal yang sebenarnya digunakan Pyongyang dalam uji coba kali ini.
Peluncuran rudal itu juga membuat pemerintah Jepang meningkatkan kewaspadaan. Kantor Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melalui akun X mengeluarkan peringatan darurat terkait aktivitas rudal Korea Utara tersebut.
"[Peringatan Darurat]: Korea Utara telah meluncurkan sebuah rudal diduga rudal balistik. Perkembangan selanjutnya masih berlangsung." bunyi peringatan PMO.
Kementerian Pertahanan Jepang kemudian menyampaikan kecaman keras atas tindakan Korea Utara. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan Tokyo telah menyampaikan protes melalui jalur diplomatik.
Ilustrasi - Peluncuran rudal balistik (Antara)
"Jepang menyampaikan protes keras kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Kedutaan Besar Jepang di Beijing dan mengecam keras tindakan tersebut," kata Shinjiro Koizumi kepada wartawan.
Di Korea Selatan, Kantor Keamanan Nasional menggelar rapat darurat untuk membahas peluncuran tersebut. Seoul menyatakan keprihatinan atas berlanjutnya aktivitas rudal Korea Utara setelah uji coba sebelumnya pada 6 Agustus.
Pemerintah Korea Selatan juga mendesak Pyongyang menghentikan tindakan provokatif yang dinilai bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, militer Korea Selatan menegaskan tetap mempertahankan tingkat kesiapsiagaan tinggi. Seoul menyatakan siap merespons "secara luar biasa" setiap bentuk provokasi melalui kerangka pertahanan bersama dengan Amerika Serikat.
Uji coba rudal terbaru tersebut kembali meningkatkan ketegangan di kawasan, terlebih dilakukan menjelang pelaksanaan latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat pada pertengahan Agustus.
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. (Antara)