Sebelum Tubuh Berteriak, Dengarkan Ia Lewat Cek Kesehatan Gratis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Agu 2026, 17:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Cek kesehatan gratis di SMK Negeri 26 Jakarta Cek kesehatan gratis di SMK Negeri 26 Jakarta (NTVNews.id/ Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Ada ketakutan yang sering kali lebih besar daripada rasa sakit itu sendiri: takut mengetahui bahwa sesuatu yang selama ini terasa baik-baik saja ternyata tidak benar-benar baik.

Bagi sebagian orang, datang ke fasilitas kesehatan bukan perkara sederhana. Ada yang merasa belum perlu karena tubuh masih sanggup bekerja. Ada yang memilih menunda karena kesibukan. Ada pula yang justru takut jika hasil pemeriksaan menunjukkan penyakit yang selama ini tidak pernah mereka bayangkan.

Ketakutan semacam itu bukan sekadar persoalan perasaan. Ia bisa menjadi alasan seseorang tidak pernah mengetahui tekanan darahnya, tidak menyadari kadar gula dalam tubuhnya meningkat, atau tidak mengetahui bahwa kolesterolnya sudah berada di luar batas aman.

Di sinilah pemeriksaan kesehatan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di selembar hasil laboratorium.

Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir dengan gagasan sederhana: memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi tubuhnya sebelum penyakit berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.

Baca Juga: CKG Jangkau 100 Juta Warga, Kepala Bakom: Perjalanan Masih Panjang

Namun perjalanan CKG tidak berhenti ketika tensimeter dilepas, berat badan ditimbang, darah diambil, atau hasil pemeriksaan dicatat.

Justru setelah itu, pekerjaan yang lebih penting dimulai.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemeriksaan bukan tujuan akhir. "Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani," ujar Menkes Budi.

Kalimat itu menjadi penanda bahwa keberhasilan CKG tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak orang yang datang untuk diperiksa. Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak persoalan kesehatan yang ditemukan, kemudian benar-benar ditangani.

Dari rasa takut menjadi keberanian

6.562 Orang Sudah Jalani Cek Kesehatan Gratis dari 16.442 Pendaftar <b>(ANTARA/Risky Syukur)</b> 6.562 Orang Sudah Jalani Cek Kesehatan Gratis dari 16.442 Pendaftar (ANTARA/Risky Syukur)

Program CKG telah menjangkau puluhan juta orang. Kementerian Kesehatan mencatat, hingga 31 Juli 2026 sebanyak 73,8 juta penduduk telah mengikuti pemeriksaan. Jumlah itu bahkan melampaui capaian sepanjang 2025 yang berada di angka 70 juta peserta.

Dari jumlah tersebut, 62,7 juta orang menjalani skrining melalui puskesmas dan kegiatan komunitas. Sementara 11,1 juta lainnya merupakan anak sekolah.

Layanan tersebut tersedia bagi berbagai kelompok umur melalui lebih dari 10.000 puskesmas, sekolah, dan komunitas.

Angka-angka itu menunjukkan betapa besar pintu yang telah dibuka. Tetapi di balik jutaan peserta tersebut, ada cerita yang jauh lebih personal: seseorang yang akhirnya mengetahui tekanan darahnya tinggi; seorang anak yang baru mengetahui kondisi giginya bermasalah; seorang remaja yang mungkin untuk pertama kalinya memiliki kesempatan membicarakan kecemasan atau depresi; atau seorang warga yang mendapatkan kesempatan mengetahui risiko penyakit sebelum komplikasi datang.

Pemeriksaan menjadi semacam jeda. Jeda untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan bertanya kepada tubuh sendiri: sebenarnya, bagaimana kondisi saya?

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa penyakit tidak menular sering kali datang tanpa suara.

“Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi,” tegas Wamenkes Dante.

Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, pesan itu menjadi penting.

Sebab seseorang tidak harus merasa sakit terlebih dahulu untuk membutuhkan pemeriksaan.

Baca Juga: Menkes Targetkan Skrining Hepatitis 90 Persen Lewat CKG, Perkuat Deteksi Dini di Puskesmas

Hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi menjadi tiga faktor risiko penyakit tidak menular yang menjadi fokus tindak lanjut CKG pada 2026. Ketiganya berkaitan dengan penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.

Hingga akhir Juli, pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh telah mencapai 90 persen dari sasaran. Pemeriksaan gula darah mencapai 83 persen.

Tetapi angka pemeriksaan itu baru merupakan pintu masuk.

Di baliknya ada pekerjaan besar untuk memastikan orang yang ditemukan berisiko tidak pulang membawa kecemasan dan selembar hasil pemeriksaan tanpa tahu harus melakukan apa.

Ketika hasil pemeriksaan membutuhkan tindakan

Dalam layanan kesehatan, menemukan penyakit bukanlah akhir. Diagnosis seharusnya menjadi awal dari sebuah perjalanan pengobatan.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mulai memperkuat tata laksana setelah pemeriksaan. Mulai Agustus 2026, data tindak lanjut dipantau dari sedikitnya 5.300 puskesmas sebelum diperluas secara nasional.

Untuk penanganan cepat di komunitas, obat hipertensi, diabetes, dan kolesterol dapat diberikan secara gratis hingga 15 hari pertama sesuai indikasi medis. Setelah itu, penanganan dilanjutkan melalui mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional.

Gagasan tersebut membuat CKG tidak berhenti sebagai kegiatan pemeriksaan massal. Ada upaya untuk membangun rangkaian yang menghubungkan skrining, diagnosis, pengobatan, pemantauan, dan rujukan.

Pakar kesehatan masyarakat dr. Iwan Ariawan melihat keberlanjutan itu sebagai bagian penting dari tujuan kesehatan masyarakat.

"Yang ingin kita capai bukan hanya masyarakat hidup lebih lama, tetapi hidup sehat dan berkualitas. Karena itu, CKG harus berjalan dalam satu rangkaian: skrining, deteksi, dan tindak lanjut," terang dr. Iwan.

Kalimat itu menyentuh persoalan yang sering luput ketika keberhasilan kesehatan hanya dilihat dari angka harapan hidup.

Hidup panjang belum tentu berarti hidup sehat.

Seseorang dapat berumur panjang, tetapi menjalani bertahun-tahun kehidupannya dengan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah atau dikendalikan apabila diketahui lebih awal.

Karena itu, CKG membawa pesan yang lebih sederhana sekaligus lebih dalam: jangan menunggu tubuh memberi alarm keras.

Periksa sebelum terlambat.

Cerita dari ruang pemeriksaan anak

Petugas kesehatan puskesmas Balongan memeriksa kesehatan gigi siswa pada kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di SDN Gelarmandala, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa, 16 September 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan pelaksa <b>(ANTARA)</b> Petugas kesehatan puskesmas Balongan memeriksa kesehatan gigi siswa pada kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di SDN Gelarmandala, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa, 16 September 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan pelaksa (ANTARA)

Di dunia anak-anak, persoalan tersebut menjadi lebih kompleks.

Mereka belum selalu mampu mengenali gejala, menjelaskan keluhan, atau memahami arti sebuah hasil pemeriksaan.

Program CKG anak sejak Februari 2025 hingga Februari 2026 telah menjangkau 23,5 juta anak. Namun evaluasi menunjukkan adanya jarak yang mencolok antara tingginya jumlah anak yang diperiksa dan rendahnya tindak lanjut medis.

Di sinilah wajah lain CKG terlihat.

Sebanyak 95 persen balita yang berisiko tuberkulosis belum menjalani tes konfirmasi. Masalah kesehatan gigi juga ditemukan dalam jumlah besar. Bahkan pada tingkat SMP dan SMA, kasus karies disebut menyentuh angka 100 persen dalam temuan CKG.

Kesehatan anak bukan sekadar soal berat badan dan tinggi badan.

Di balik sebuah gigi berlubang, misalnya, ada kemungkinan rasa sakit yang mengganggu makan, belajar, tidur, bahkan rasa percaya diri. Bila dibiarkan, persoalan sederhana dapat berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti persoalan tersebut.

“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. Tiga puluh sampai empat puluh persen giginya bermasalah. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujar Menkes Budi.

Di balik data tersebut terdapat cerita tentang anak-anak yang mungkin selama ini menganggap sakit gigi sebagai sesuatu yang biasa. Salah satunya adalah Hasbi.

Siswa yang mengikuti CKG di sekolahnya itu mengaku menjalani sejumlah pemeriksaan, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan, tekanan darah, hingga pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hemoglobin.

Namun ada satu hal yang tidak ia dapatkan: penjelasan utuh mengenai hasil pemeriksaannya.

“Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (Hemoglobin/Sel Darah Merah). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja,” tutur Hasbi.

Bagi orang dewasa, tidak mengetahui hasil pemeriksaan mungkin sudah menjadi persoalan. Bagi anak, situasinya dapat lebih rumit karena mereka membutuhkan orang tua atau pendamping untuk memahami apa yang harus dilakukan setelah pemeriksaan.

Hasbi kemudian mengalami sendiri konsekuensi dari keterlambatan penanganan. Pada usia 15 tahun, ia harus menjalani pencabutan gigi karena persoalan yang terlambat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Cerita itu memperlihatkan satu hal yang sangat manusiawi: mengetahui penyakit tidak cukup jika seseorang tidak mengetahui langkah berikutnya.

Sebuah hasil pemeriksaan seharusnya bukan sekadar angka.

Ia harus menjadi informasi yang bisa dipahami, dibicarakan, dan ditindaklanjuti.

Jangan biarkan hasil CKG menjadi angka mati

Arifatul Choiri Fauzi Menteri PPA <b>(Antara)</b> Arifatul Choiri Fauzi Menteri PPA (Antara)

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menegaskan bahwa hasil pemeriksaan anak harus sampai kepada orang tua.

“Data ini bukan hanya angka mati di komputer, tetapi harus disampaikan kepada orang tua agar mereka tahu kondisi anaknya dan langkah edukasi apa yang harus dilakukan selanjutnya,” kata Arifatul.

Pesan tersebut mengubah cara melihat sebuah data.

Di balik satu angka ada seorang anak.

Di balik hasil skrining ada keluarga.

Dan di balik sebuah diagnosis ada kemungkinan masa depan yang bisa diselamatkan jika tindakan dilakukan lebih cepat.

Karena itu, keberhasilan CKG anak mulai diarahkan pada ukuran yang lebih substantif. Mulai 2027, keberhasilan program tidak lagi hanya dinilai berdasarkan banyaknya anak yang diperiksa, melainkan rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani.

Pemerintah juga berkomitmen memberikan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki “rapor kesehatan” berstatus kuning atau merah.

Arah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang: pemeriksaan bukan garis finis, melainkan garis awal.

Anak yang ditemukan memiliki masalah kesehatan harus mendapatkan pendampingan.

Remaja yang terindikasi mengalami kecemasan atau depresi harus memperoleh akses konseling, baik melalui layanan telemedisin maupun dengan memperkuat peran guru Bimbingan Konseling di sekolah.

Dengan demikian, CKG tidak hanya memeriksa tubuh.

Ia juga mencoba mendengar persoalan yang tidak selalu terlihat.

Dari sekolah ke pesantren

Siswa MIN 8 Jakarta menerima imunisasi dalam Cek Kesehatan Gratis tahap dua yang digelar di sekolah, Senin, 4 Agustus 2025. <b>(Antara)</b> Siswa MIN 8 Jakarta menerima imunisasi dalam Cek Kesehatan Gratis tahap dua yang digelar di sekolah, Senin, 4 Agustus 2025. (Antara)

Perluasan CKG juga menyentuh lingkungan pendidikan keagamaan.

Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan memperluas akses CKG dan skrining tuberkulosis bagi santri serta ekosistem pendidikan keagamaan.

Langkah tersebut penting karena pesantren merupakan ruang hidup bersama dengan karakter yang komunal. Banyak santri tinggal, belajar, makan, dan beraktivitas dalam lingkungan yang sama.

Dalam kondisi semacam itu, deteksi dini menjadi bagian dari perlindungan bersama.

Kementerian Agama mencatat terdapat lebih dari 7 juta santri yang tersebar di 42.000 pondok pesantren serta 10,5 juta siswa di 80.000 madrasah.

“Terdapat lebih dari 7 juta santri yang tersebar di 42.000 pondok pesantren dengan berbagai jenjangnya, serta 10,5 juta siswa di 80.000 madrasah. Ekosistem inilah yang membutuhkan kehadiran negara di bidang kesehatan. Kemenag secara terbuka akan memfasilitasi setiap layanan kesehatan gratis yang diinisiasi pemerintah pusat di lembaga pendidikan kami,” terang Amin Suyitno.

Hingga saat itu, program cek kesehatan telah menjangkau lebih dari 12.000 peserta dari lingkungan pendidikan keagamaan.

Salah satu perhatian penting adalah tuberkulosis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemeriksaan cepat menjadi kunci dalam penanganan penyakit tersebut.

“Kunci penanganan TBC adalah skrining cepat. Jika hasil skrining menunjukkan positif, penyakit ini bisa disembuhkan secara total dan obatnya sangat manjur. Obatnya gratis dan tersedia di puskesmas,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Untuk mendekatkan pemeriksaan, pemerintah juga memanfaatkan rontgen portabel yang dapat dibawa ke permukiman dan pesantren.

Bagi seorang santri, fasilitas yang datang mendekati tempat mereka tinggal mungkin berarti sesuatu yang sederhana: tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan pemeriksaan.

Namun bagi upaya kesehatan masyarakat, langkah itu berarti lebih besar.

Ia memperpendek jarak antara masyarakat dan layanan kesehatan.

Ketika negara datang lebih dekat

Jarak sering kali menjadi persoalan dalam pelayanan kesehatan.

Bukan hanya jarak geografis, tetapi juga jarak ekonomi, informasi, dan kesempatan.

Karena itu, CKG yang tersedia di 10.255 puskesmas di 38 provinsi menjadi bagian dari upaya memperluas akses tersebut.

Pemerintah juga meningkatkan fasilitas 66 rumah sakit di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Sebanyak 20 rumah sakit umum daerah baru disebut telah beroperasi.

Tetapi fasilitas tanpa tenaga kesehatan juga tidak akan cukup.

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan kekurangan dokter yang masih terjadi di berbagai wilayah.

Baca Juga: Prabowo Sebut Cek Kesehatan Gratis Jangkau 100 Juta Penerima, 66 RSUD Diperbaiki

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 474 kabupaten/kota membutuhkan tambahan 84.781 dokter umum. Sebanyak 505 kabupaten/kota membutuhkan tambahan 127.580 dokter gigi. Sementara 481 kabupaten/kota masih membutuhkan tambahan 55.712 dokter spesialis.

"Untuk memperkuat pelayanan kesehatan kita, kita harus menghadapi dan menyelesaikan masalah kekurangan dokter umum dan dokter spesialis kita," ujar Prabowo.

Pemerintah kemudian membuka sembilan fakultas baru serta 170 program studi spesialis dan subspesialis dalam 21 bulan terakhir. Program studi spesialis juga mulai tersedia di 11 provinsi untuk mempercepat pemenuhan tenaga medis.

"Kita harus mencari solusi. Kita harus memperbanyak dokter-dokter spesialis dan dokter-dokter gigi dan dokter-dokter umum kita," tegas Prabowo.

Persoalan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam perjalanan CKG.

Sebab ketika jutaan orang diperiksa dan masalah kesehatan ditemukan, harus ada tenaga kesehatan yang mampu menjelaskan hasil, memberikan pengobatan, melakukan pemantauan, atau merujuk pasien ketika dibutuhkan.

108 juta orang dan satu pesan

Respon Pidato Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI, Menteri Mukhtarudin Siap Tingkatkan Kualitas Pekerja Migran Indonesia Respon Pidato Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI, Menteri Mukhtarudin Siap Tingkatkan Kualitas Pekerja Migran Indonesia

Dalam Sidang Tahunan MPR 2026, Prabowo mengungkapkan bahwa sejak diluncurkan pada Februari 2025, CKG telah menjangkau 108 juta orang. Pada 2025 tercatat 70,2 juta peserta, sedangkan hingga akhir Juni 2026 tercatat 59,5 juta peserta, dengan sebagian masyarakat mengikuti pemeriksaan pada kedua periode.

Pemerintah ingin program itu menjadi lebih baik.

"Kita menghendaki ini harus lebih baik lagi," ujar Prabowo.

Pernyataan itu seolah mengingatkan bahwa angka besar tidak boleh membuat pekerjaan berhenti.

Sebab 108 juta orang bukan hanya statistik.

Di dalamnya terdapat orang tua yang ingin memastikan dirinya tetap sehat untuk mendampingi anak.

Ada pekerja yang ingin tetap kuat mencari nafkah.

Ada anak sekolah yang belum memahami arti hasil pemeriksaan.

Ada santri yang hidup bersama dalam lingkungan komunal.

Ada warga di daerah yang mungkin selama ini berjarak dari layanan kesehatan.

Dan ada mereka yang mungkin baru mengetahui penyakitnya setelah mengikuti CKG.

Presiden juga mengakui masih ada masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan karena takut mengetahui penyakit yang dideritanya.

“Tapi ada sementara rakyat kita yang takut cek kesehatan, takut ketahuan sakitnya apa,” tutur Prabowo.

Ketakutan itu mungkin manusiawi.

Namun justru karena itulah pemeriksaan menjadi penting.

Penyakit yang diketahui lebih awal memberikan kesempatan lebih besar untuk ditangani. Sebaliknya, penyakit yang tidak diketahui dapat terus berkembang tanpa disadari.

Cegah dini, tuntas obati

Pada akhirnya, CKG bukan semata tentang mendatangi puskesmas, duduk di kursi pemeriksaan, menunggu hasil, lalu pulang.

Esensinya jauh lebih panjang.

Ia dimulai dari keberanian untuk mengetahui.

Berlanjut dengan kemampuan memahami.

Kemudian diteruskan melalui tindakan.

Dan berakhir pada satu tujuan: masyarakat tetap sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Karena itu, tema “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” menemukan maknanya di antara dua titik: mencegah dan menuntaskan.

Mencegah berarti tidak menunggu penyakit menjadi parah.

Menuntaskan berarti tidak membiarkan hasil pemeriksaan berhenti sebagai catatan.

Dari pemeriksaan tekanan darah hingga pengambilan darah, dari pemeriksaan gigi hingga skrining kesehatan mental, setiap temuan memiliki cerita dan membutuhkan tindak lanjut.

Wamenkes Dante mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan seharusnya menjadi kebiasaan.

“Cek kesehatan tidak cukup dilakukan sekali. Jika memungkinkan, lakukan setiap tahun. Kita akan terus memperbaiki sistem agar masyarakat yang ditemukan berisiko dapat lebih cepat diobati dan tetap sehat,” lanjutnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mungkin menjadi salah satu pesan paling penting dari perjalanan CKG.

Kesehatan bukan sesuatu yang baru dipikirkan ketika sakit.

Kesehatan harus dirawat bahkan ketika tubuh belum mengeluh.

Sebab tidak semua penyakit mengetuk pintu dengan suara keras. Sebagian datang perlahan, diam-diam, tanpa gejala, lalu baru terasa ketika tubuh sudah berada di titik yang lebih sulit untuk dipulihkan.

Maka pemeriksaan adalah bentuk keberanian.

Berani melihat kondisi tubuh apa adanya.

Berani menerima hasil.

Dan yang paling penting, berani mengambil langkah setelah mengetahui hasil tersebut.

Pemerintah kini menghadapi pekerjaan besar: memastikan jutaan hasil pemeriksaan tidak berhenti di layar komputer, memastikan anak dan orang tua memahami diagnosis, memastikan puskesmas mampu menangani temuan, memastikan obat tersedia, memastikan rujukan berjalan, serta memastikan masyarakat tidak kembali sendirian setelah keluar dari ruang pemeriksaan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan CKG bukan hanya seberapa banyak orang yang datang.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa banyak orang yang setelah diperiksa menjadi lebih sehat.

Seberapa banyak penyakit ditemukan sebelum terlambat.

Seberapa banyak anak terbebas dari masalah kesehatan yang mengganggu masa depannya.

Seberapa banyak keluarga mendapatkan pengetahuan untuk menjaga kesehatan bersama.

Dan seberapa banyak masyarakat akhirnya menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai kebiasaan, bukan sebagai pilihan yang baru diambil ketika rasa sakit datang.

Di sebuah ruang pemeriksaan, mungkin hanya diperlukan beberapa menit untuk mengukur tekanan darah.

Tetapi beberapa menit itu bisa menjadi awal dari keputusan besar.

Seseorang mungkin pulang dengan kabar bahwa dirinya sehat.

Seseorang lainnya mungkin pulang membawa catatan bahwa ada sesuatu yang harus segera ditangani.

Keduanya sama-sama penting.

Sebab dalam kesehatan, mengetahui lebih awal selalu memberi kesempatan untuk berbuat lebih banyak.

Dan di sanalah makna Cek Kesehatan Gratis menemukan pijakannya: bukan sekadar membuat masyarakat tahu apakah mereka sakit atau sehat, tetapi memastikan bahwa ketika sebuah masalah ditemukan, tidak ada yang dibiarkan berjalan sendirian.

Cegah dini. Tuntas obati. Karena kesehatan yang dijaga hari ini adalah kesempatan untuk hidup lebih panjang, lebih sehat, dan lebih berkualitas esok hari.

 

HIGHLIGHT

x|close