Apa Itu Pakta Makkah Saudi-Pakistan-Turki di Tengah Ketegangan Timur Tengah?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Agu 2026, 09:49
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama (Reuters)

Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menyepakati pakta pertahanan bersama yang dikenal sebagai Pakta Makkahpada Jumat, 7 Agustus 2026. Kesepakatan tersebut dibuat ketika situasi keamanan di Timur Tengah semakin memanas akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Dilansir dari Al Arabiya, Senin, 10 Agustus 2026, Pakta itu ditandatangani di Mekkah, Arab Saudi, oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyebut perjanjian tersebut sebagai upaya membangun sistem pencegahan kolektif terhadap kemungkinan agresi. Salah satu ketentuan utama menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu negara anggota akan diperlakukan sebagai serangan terhadap ketiganya.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menjelaskan bahwa kerja sama pertahanan tersebut berlandaskan "ikatan persaudaraan abadi dan solidaritas Islam". Kesepakatan ini ditujukan untuk memperkuat kepentingan strategis bersama sekaligus membangun kerja sama pertahanan dalam jangka panjang.

"Perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama ketiga negara untuk lebih memperkuat keamanan kolektif untuk mendorong perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan ini dan sekitarnya, dalam upaya mencapai masa depan yang aman dan sejahtera," demikian pernyataan Kemlu Pakistan.

Latar Belakang Pakta Pertahanan

Kerja sama pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan sebenarnya bukan hal yang baru. Pembicaraan mengenai perjanjian tersebut telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, tepatnya setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023 dan Israel kemudian melancarkan operasi militer di Jalur Gaza.

Turki dan Pakistan memang tidak secara langsung terdampak oleh eskalasi konflik di kawasan. Namun, Arab Saudi berada dalam posisi yang lebih rentan karena menjadi lokasi berbagai aset serta infrastruktur militer AS. Saudi juga menghadapi serangan yang dikaitkan dengan Iran dan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman.

Baca Juga: Prabowo Akan Serahkan Sertifikat Tanah Gratis untuk Rumah MBR di Cirebon

Serangan Iran juga dilaporkan menyasar sejumlah negara Teluk serta Yordania yang turut menjadi lokasi penempatan aset militer AS.

Ketiga negara menyatakan keprihatinan mendalam terhadap dampak konflik Iran serta semakin besarnya pengaruh Israel di kawasan. Israel sendiri telah menguasai sekitar seperlima wilayah Lebanon dalam operasi yang menargetkan basis kelompok bersenjata Hizbullah, yang memiliki hubungan dengan Iran.

Pembahasan mengenai pembentukan mekanisme keamanan bersama kemudian berlanjut dalam pertemuan para menteri luar negeri ketiga negara di Riyadh pada 19 Maret lalu.

Tujuan Pakta Pertahanan Makkah

Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama <b>(Reuters)</b> Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama (Reuters)

Kesepakatan antara ketiga negara tersebut dinilai menjadi kelanjutan dari hubungan pertahanan yang sebelumnya telah terjalin antara Turki dan Pakistan.

Sejumlah pengamat menilai kerja sama trilateral ini berpotensi menggabungkan kapasitas militer dan sumber daya finansial yang dimiliki masing-masing negara.

Turki diketahui memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO. Arab Saudi merupakan salah satu negara dengan kekuatan ekspor minyak terbesar di dunia, sementara Pakistan menjadi satu-satunya negara Muslim yang diketahui memiliki senjata nuklir.

Direktur pelaksana German Marshall Fund of the United States' South and Wider Europe, Ozgur Unluhisarcikli, menilai ketiga negara memiliki kemampuan yang saling melengkapi.

"Termasuk kemampuan industri pertahanan Turki, kekuatan finansial dan pengaruh Arab Saudi, serta pengalaman militer dan kemampuan penangkalan strategis Pakistan," ujar Unluhisarcikli kepada Al Jazeera.

"Perlu dicatat bahwa ini merupakan kerangka kerja untuk koordinasi strategis, militer, dan industri pertahanan yang lebih erat di antara tiga kekuatan regional yang berpengaruh, dan bukan pakta pertahanan bersama yang dapat disandingkan dengan NATO," imbuhnya.

Sementara itu, Murat Aslan, profesor politik internasional di Universitas Hasan Kalyoncu, Turki, mengatakan kerja sama tersebut kemungkinan juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pertahanan masing-masing negara.

"Kita tahu bahwa selama beberapa dekade Saudi bergantung pada impor produk pertahanan terutama dari AS. Kita juga tahu bahwa hal itu tidak efisien secara biaya, sehingga mereka perlu membangun sektor pertahanan mereka sendiri di dalam negeri," kata Aslan.

Laporan Osama bin Javaid dari Al Jazeera menyebut kesepakatan tersebut pada dasarnya mempertemukan tiga negara dengan populasi Muslim besar untuk membangun upaya perdamaian bersama sekaligus menciptakan pencegahan terhadap berbagai bentuk agresi.

"Gabungan kekuatan ketiganya kini menghadirkan kekuatan yang akan membawa kawasan ini menuju arsitektur keamanan yang berbeda dibandingkan dengan apa yang telah berlaku selama beberapa dekade terakhir, terutama pasca-perang Iran," ujarnya.

HIGHLIGHT

x|close