Turki Ingin Mesir Gabung Pakta Pertahanan Bersama Saudi dan Pakistan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Agu 2026, 04:54
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Hubungan antara Israel dan Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan semakin tegang ( AP ). Hubungan antara Israel dan Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan semakin tegang ( AP ). (Reuters)

Ntvnews.id, Ankara - Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi menandatangani perjanjian pertahanan bersama di Mekkah, Arab Saudi, pada Jumat, 7 Agustus 2026 waktu setempat. Setelah kesepakatan tersebut terbentuk, Turki berharap Mesir turut bergabung dalam aliansi pertahanan itu.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyampaikan harapan tersebut dalam wawancara dengan kantor berita pemerintah Anadolu. Ia berharap Mesir dapat menjadi bagian dari "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah" dan menyebut Kairo sebagai "mitra alami dalam segala hal".

"Saya yakin bahwa pada tahap berikutnya, Mesir juga akan bergabung dengan kami dalam aliansi ini. Kami sudah saling bertindak seolah-olah kami adalah anggota aliansi," ujarnya dalam sebuah wawancara, dilansir dari AFP, Senin, 10 Agustus 2026.

Fidan mengatakan masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu diselesaikan sebelum Mesir dapat bergabung secara resmi.

"Ada beberapa masalah teknis. Begitu hal-hal tersebut diselesaikan, tidak ada alasan bagi Mesir untuk tidak menjadi bagian darinya," sambungnya.

Fidan juga menegaskan bahwa pakta pertahanan tersebut tidak dibentuk untuk menghadapi atau mengancam negara tertentu.

"Tidak ada ancaman bersama yang kami cantumkan secara tertulis," katanya, sebagaimana dikutip kantor berita tersebut.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam kesepakatan tersebut adalah serangan terhadap satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Baca Juga: Trump Puji Erdogan sebagai Pemimpin Tangguh

Islamabad juga menyebut pakta tersebut "bertujuan untuk memperkuat daya tangkal kolektif".

Dalam wawancara yang sama, Fidan menyebut pembentukan pakta tersebut sebagai "langkah paling penting untuk mewujudkan stabilitas jangka panjang di kawasan ini". Ia juga mengisyaratkan bahwa kerja sama pertahanan tersebut terbuka untuk diperluas dengan melibatkan negara lain.

"Berdasarkan visi presiden kami, kita tidak boleh hanya terbatas pada tiga negara. Kita harus berkembang dan, jika perlu, merangkul semua negara di bawah payung ini," ujarnya.

Perjanjian pertahanan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan ditandatangani pada Jumat ketika kawasan Timur Tengah tengah menghadapi ketegangan akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Konflik tersebut telah memberikan dampak luas terhadap negara-negara di kawasan serta mengganggu aktivitas pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz dan Laut Merah.

Situasi tersebut juga meningkatkan eskalasi antara Iran dan negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat. Kelompok Houthi di Yaman yang dikenal sebagai sekutu Iran dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.

Sementara itu, sebuah drone pada bulan lalu dilaporkan menyerang aset milik Amerika Serikat yang berada di sebuah pelabuhan Mesir di kawasan Laut Mediterania.

HIGHLIGHT

x|close