Ntvnews.id, Jakarta - Meninggalnya seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang sebelumnya sempat mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap memicu perhatian luas di media sosial. Perbincangan publik semakin ramai setelah beredar tangkapan layar berisi komentar dari sejumlah akun yang diduga merupakan tenaga kesehatan dan dokter.
Komentar-komentar tersebut dinilai banyak warganet tidak menunjukkan empati terhadap kondisi pasien.
Kisah itu awalnya ramai diperbincangkan di Threads, karena pasien tersebut mengeluhkan pengalamannya itu di akun Threads miliknya. Dalam unggahan yang viral, akun @yurizaltrich mengaku telah menunggu selama delapan jam namun belum juga memperoleh ruang rawat inap.
"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis akun tersebut, dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.
Unggahan itu kemudian dibanjiri ribuan komentar. Salah satu yang paling banyak disorot berasal dari akun @bennychrstn yang disebut-sebut merupakan tenaga medis.
"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai?" ucapnya.
Akun tersebut kemudian menjelaskan bahwa penuhnya ruang perawatan tidak berkaitan dengan status kepesertaan BPJS.
"Enggak ada hubungannya sama BPJS atau enggak. BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, enggak cuma u sendiri," tulisnya.
Namun, komentar yang paling menuai kecaman adalah pernyataan yang menyinggung ruang jenazah.
"Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong," ucapnya.
"Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha ngebantuin, masyarakatnya malah gini," tambahnya.
Komentar tersebut memicu gelombang kritik dari pengguna media sosial. Banyak yang menilai candaan mengenai ruang jenazah tidak pantas diucapkan kepada seseorang yang sedang sakit dan menunggu mendapatkan perawatan medis.
Selain itu, tangkapan layar lain yang ikut beredar memperlihatkan akun @nouzzha_kim yang disebut sebagai seorang dokter turut memberikan komentar bernada keras.
"8 jam sangat sangat wajar apalagi kalau itu RS rujukan nasional. Mungkin sekelas RSHS Bandung atau RSCM ikut kan? Boleh gue bilang sesuatu? Lo banyak bacot," tulisnya.
Komentar tersebut juga menjadi sasaran kritik karena dianggap tidak mencerminkan etika komunikasi yang seharusnya dijunjung oleh tenaga kesehatan.
Sementara itu, akun @erudarahaadini yang juga disebut sebagai tenaga kesehatan turut memberikan komentar terhadap unggahan tersebut.
"PP nya kayak orang have tetapi aslinya haven't kah? haven't some brain cells," tulisnya.
Seiring viralnya kasus tersebut, berbagai tangkapan layar yang beredar di media sosial mulai mengaitkan sejumlah akun tersebut dengan identitas tenaga medis. Beberapa di antaranya disebut pernah bekerja di rumah sakit daerah, sementara lainnya dikaitkan dengan institusi pendidikan kedokteran maupun organisasi profesi.
Bahkan, foto profil yang diduga memuat riwayat pendidikan, tempat bekerja, hingga prestasi akademik para pemilik akun turut tersebar di media sosial.
Sebagai informasi, pasien yang mengunggah keluhan tersebut diketahui bernama Yurizal Tri Chaerawan. Ia dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026 setelah kondisinya diduga terlambat mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit. Kabar duka itu disampaikan oleh sepupu Yurizal, Hilda Prianti Perdana.
Melalui unggahan akun Threads-nya, @hilperd, Hilda menyampaikan bahwa Yurizal meninggal dunia setelah terlambat mendapatkan penanganan di rumah sakit.
"Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat gini di Threads. Sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita-cerita ke mana-mana, bahkan ke keluarga. Apa-apa nyimpen sendiri. Sudah ya, jangan ada hate lagi di sini," tulis akun tersebut.
Unggahan itu kemudian ikut menyebar luas di media sosial dan menjadi salah satu pemicu semakin besarnya perhatian publik terhadap kasus yang dialami Yurizal.
Ilustrasi dokter (Freepik)