Kemlu RI Tegaskan Kutuk Kekerasan di Tepi Barat, Serukan Deeskalasi Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jul 2026, 11:20
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang dalam media gathering di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang dalam media gathering di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan sikap Indonesia yang tetap mengutuk seluruh bentuk kekerasan, terutama yang terjadi di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut.

“Posisi kita konsisten, kita terus mengutuk kekerasan yang terjadi di area Tepi Barat,” kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Indonesia turut mendorong seluruh pihak untuk melakukan deeskalasi konflik. Pemerintah menyerukan agar semua pihak menahan diri, menghormati gencatan senjata dan hukum internasional, serta mengedepankan jalur diplomasi guna mencegah situasi di Tepi Barat semakin memburuk.

Sebelumnya, pada Rabu, 29 Juli 2026, Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Israel serta meluasnya aneksasi di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Baca JugaKemlu RI Protes Aksi Israel di Reruntuhan RS Indonesia

“Kekerasan oleh para pemukim dan perluasan aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat semakin memburuk,” kata Juru Bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Ravina Shamdasani dalam sebuah pernyataan.

Lembaga tersebut juga menyampaikan kekhawatiran terhadap pengumuman pemerintah Israel mengenai rencana perluasan permukiman dan pos-pos terdepan, serta adanya seruan terbuka dari sejumlah pemimpin Israel untuk melakukan aksi balas dendam dan hukuman kolektif terhadap komunitas Palestina.

Selain itu, Kantor HAM PBB menyoroti ancaman untuk “mengubah Tepi Barat menjadi Gaza yang lain.”

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terhadap warga Palestina dan aset milik mereka di Tepi Barat terus meningkat. Warga Palestina, Israel, dan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional menuding tentara Israel memberikan perlindungan kepada para pemukim, bahkan dalam beberapa kasus ikut terlibat dalam serangan tersebut.

Baca JugaBAZNAS, Kemlu RI, TNI dan KBRI Amman Matangkan Rencana Penyaluran Bantuan Airdrop untuk Gaza

Berdasarkan data resmi Palestina, sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023, operasi militer Israel di Tepi Barat telah menewaskan lebih dari 1.182 warga Palestina, melukai sekitar 13.000 orang, serta menyebabkan hampir 24.000 orang ditangkap.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close